Masjid Raya Darussalam Samarinda Diresmikan Kembali, Andi Harun Tegaskan Nilai Sejarah dan Spiritualitas

oleh -273 Dilihat
Wali Kota Samarinda H. Andi Harun saat menandatangani prasasti (Foto : Fdy)
banner 468x60

Ulasankaltim.id, Samarinda – Suasana khidmat menyelimuti pusat Kota Samarinda ketika Masjid Raya Darussalam kembali berdiri dengan wajah baru. Seusai Sholat Jumat, Jumat (13/2/26), Wali Kota Samarinda H. Andi Harun meresmikan selesainya renovasi tahap lanjutan masjid bersejarah tersebut di hadapan jamaah dan jajaran pemerintah daerah.

Kegiatan peresmian dipusatkan di Masjid Raya Darussalam dan dihadiri Wakil Wali Kota H. Saefuddin Zuhri, para asisten, kepala perangkat daerah, direktur utama BUMD, Kabag Kesra, Kepala Kementerian Agama, Ketua TWAP, Camat Samarinda Kota, serta lurah setempat. Kehadiran para pejabat menunjukkan dukungan penuh terhadap penguatan fungsi rumah ibadah di pusat kota.

Dalam sambutannya, Andi Harun menekankan bahwa Masjid Raya Darussalam tidak sekadar bangunan fisik, melainkan bagian dari perjalanan sejarah Samarinda. Ia menyebut masjid tersebut tumbuh bersama dinamika sosial, ekonomi, budaya, dan kehidupan spiritual masyarakat.

Ia menjelaskan, cikal bakal masjid ini adalah Masjid Jami’ yang dibangun pada 1920 dengan ukuran 25 x 25 meter persegi. Bangunan awal menggunakan kayu ulin dan beratap sirap ulin, tanpa halaman, dengan serambi kanan menghadap jalan dan serambi kiri mengarah ke Sungai Mahakam.

Seiring bertambahnya jumlah jamaah, kapasitas masjid tidak lagi mencukupi, terutama saat pelaksanaan Sholat Jumat. Pada periode 1952–1955, sejumlah tokoh seperti Datuk Madjo Oerang, APT Pranoto, dan KH Abdullah Marisi menggagas renovasi untuk memperluas daya tampung.

Panitia pembangunan kemudian dibentuk di bawah arahan APT Pranoto dengan melibatkan arsitek Dinas PU Kalimantan Timur, Van Der Vyl. Pembangunan ditandai peletakan batu pertama oleh AM Parikesit selaku Kepala Daerah Istimewa Kutai pada 9 November 1953 dengan anggaran Rp2.500.000.

Dari sisi desain, masjid mengusung arsitektur bergaya Timur Tengah dan berdiri di kawasan strategis yang berdekatan dengan pelabuhan, Citra Niaga, dan Pasar Pagi. Letak tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran terkait kenyamanan beribadah di tengah aktivitas ekonomi.

Namun pemerintah menilai posisi masjid di jantung kota justru memberi kemudahan akses bagi masyarakat. Masjid menjadi tempat singgah bagi warga yang beraktivitas di sekitar kawasan perdagangan dan perkantoran.

Pada tahap renovasi terbaru, Pemerintah Kota Samarinda melakukan pembenahan menyeluruh di atas lahan seluas 15.000 meter persegi. Pekerjaan mencakup peningkatan kualitas struktur bangunan dan optimalisasi fungsi ruang.

Masjid kini dilengkapi sistem pengeras suara yang diperbarui serta partisi area wudhu seluas 10,56 meter persegi untuk meningkatkan kenyamanan jamaah. Pemerintah menyebut proses pembangunan melibatkan dukungan masyarakat dan para donatur.

Wali kota juga mengingatkan bahwa masjid memiliki fungsi utama sebagai tempat mengingat Allah SWT, dengan mengutip QS. An-Nur ayat 36–37. Ia berharap renovasi ini memperkuat peran masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan kegiatan sosial.

Dengan pernyataan resmi yang disampaikan di akhir sambutan, Andi Harun menandai selesainya renovasi tahap tersebut. Peresmian ini menjadi langkah lanjutan dalam menjaga keberadaan Masjid Raya Darussalam sebagai salah satu pusat kegiatan keagamaan di Samarinda. (Fdy)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *