DPD RI Apresiasi Peran Umat Kristen dalam Mengamalkan Nilai Pancasila di Kaltim

oleh -324 Dilihat
Dr. Yulianus Henock Sumual, SH, M. Si Anggota DPD RI Dapil Kaltim foto bersama setelah memberikan materi Kebangsaan (Foto : Fzi)
banner 468x60

Ulasankaltim.id, Bontang – Suasana hijau pesisir Mangrove Park Bontang menjadi saksi dialog kebangsaan yang menautkan iman dan ideologi negara. Di lokasi tersebut, Anggota DPD RI Dr. Yulianus Henock Sumual, SH, M.Si menggelar kegiatan Sosialisasi Ke-VII Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia di daerah pemilihan Kalimantan Timur, Kamis (11/12/2025).

Kegiatan berlangsung di Bontang Mangrove Park, Jalan Cut Nyak Dien, Kelurahan Bontang Baru, Kecamatan Bontang Utara, Kota Bontang, dengan melibatkan unsur masyarakat lintas gereja. Agenda ini menjadi bagian dari upaya penguatan nilai-nilai kebangsaan di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.

Sosialisasi tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan Badan Kerjasama Antar Gereja (BKAG) Kota Bontang. Sekitar 150 peserta hadir, terdiri atas tokoh gereja, jemaat, dan perwakilan komunitas, yang mengikuti kegiatan secara aktif dan tertib.

Tema yang diangkat, “Kristen dan Pancasila: Harmoni Nilai Iman dan Ideologi Bangsa”, menegaskan pesan utama bahwa kehidupan beriman dan kehidupan bernegara tidak berada pada dua kutub yang saling bertentangan.

Dalam pemaparannya, Yulianus Henock menekankan bahwa Pancasila merupakan fondasi bersama yang memberi ruang bagi seluruh warga negara untuk menjalankan keyakinan secara bertanggung jawab. “Nilai kekristenan seperti kasih, pengampunan, kejujuran, dan keadilan memiliki keselarasan yang kuat dengan prinsip-prinsip Pancasila,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, menegaskan pentingnya iman sebagai landasan kehidupan berbangsa. Menurutnya, pengakuan tersebut memungkinkan umat Kristen menghayati ajaran iman tanpa harus berhadapan dengan negara. “Iman tidak perlu dipertentangkan dengan konstitusi,” katanya.

Yulianus juga menyoroti kesesuaian sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, dengan ajaran Alkitab tentang penghormatan terhadap martabat manusia. Ia menilai, nilai kemanusiaan menjadi jembatan etis antara iman dan praktik sosial. “Menghidupi kasih Kristus berarti menghormati sesama dan taat pada hukum,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa nilai-nilai kekristenan turut tercermin dalam sila ketiga hingga kelima Pancasila. Persatuan Indonesia, menurutnya, sejalan dengan ajaran tentang persaudaraan universal, sementara musyawarah dan kebijaksanaan dalam sila keempat mencerminkan pentingnya hikmat dan kerendahan hati dalam pengambilan keputusan.

“Sila kelima, keadilan sosial, merupakan panggilan moral bagi umat Kristen untuk membela yang lemah dan berkontribusi nyata bagi kesejahteraan bersama,” ujar Yulianus. Ia menegaskan bahwa pengamalan Pancasila dapat menjadi ekspresi iman dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks kebangsaan, ia menilai pemahaman yang utuh mengenai relasi iman dan Pancasila penting untuk mencegah sikap ekstrem. “Baik fanatisme tertutup maupun sekularisme yang mengabaikan iman sama-sama tidak sehat bagi kehidupan berbangsa,” katanya.

Yulianus menambahkan bahwa Pancasila justru menjamin kebebasan beribadah dan kerukunan antarumat beragama. Dengan dasar tersebut, umat Kristen didorong untuk terlibat aktif dalam kehidupan publik tanpa kehilangan identitas rohaninya.

Ia juga menekankan pentingnya kesadaran bahwa umat Kristen merupakan bagian dari masyarakat Indonesia yang plural. “Komitmen terhadap toleransi harus berjalan seiring dengan keteguhan iman,” ujarnya.

Selain pemaparan materi, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi dan dialog. Sejumlah peserta menyampaikan pandangan mengenai tantangan aktual dalam mengamalkan nilai kebangsaan di tengah perbedaan budaya dan keyakinan.

Dalam sesi penutup, muncul sejumlah masukan, di antaranya perlunya penguatan pemahaman teologis dan konstitusional secara berimbang. Peserta menilai gereja dan lembaga pendidikan memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran tersebut.

Masukan lain menyoroti pentingnya pemahaman sejarah kontribusi tokoh-tokoh Kristen dalam perjalanan bangsa. Menurut peserta, kesadaran sejarah dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap Pancasila tanpa menimbulkan klaim dominasi.

Kegiatan ini juga mendorong praktik nyata nilai Pancasila dalam kehidupan sosial, seperti kerja sama lintas agama dan pelayanan kemasyarakatan. “Iman harus tampak dalam tindakan, bukan hanya wacana,” ujar salah satu peserta.

Melalui sosialisasi ini, Yulianus berharap nilai-nilai kebangsaan dapat terus hidup di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa menjadi warga negara yang taat konstitusi dan beriman adalah dua hal yang saling menguatkan dalam membangun masa depan Indonesia. (Fzi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *