Ulasankaltim.id, Samarinda — Perseteruan antara wartawan Busam.id, Ratu, dengan petugas keamanan Pasar Pagi Samarinda, Panji Asmoro, yang sebelumnya viral di media sosial, akhirnya berakhir damai.
Kedua pihak dipertemukan dalam sebuah pertemuan yang digelar di Kantor Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP), Jalan Dahlia, Kelurahan Bugis, Kecamatan Samarinda Kota, Rabu (12/8/2026).
Pertemuan tersebut dihadiri perwakilan Media Busam.id, Dinas Perdagangan Kota Samarinda, pengelola Pasar Pagi, pihak perusahaan sekuriti, serta Ratu dan Panji yang terlibat langsung dalam perselisihan.
Dalam pertemuan itu, kedua pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara damai dan saling meminta maaf.
Perselisihan sebelumnya terjadi saat Ratu melakukan siaran langsung melalui TikTok dari kawasan Pasar Pagi pada Selasa (11/8/2026).
Ratu menjelaskan, kedatangannya ke Pasar Pagi sekitar pukul 13.00 WITA untuk melakukan live TikTok sekaligus menunjukkan kondisi terkini pasar kepada para penonton.
Menurutnya, ide tersebut muncul setelah sejumlah penonton meminta dirinya memperlihatkan kondisi Pasar Pagi, termasuk lokasi pedagang pakaian dan penjual emas di sejumlah lantai.
“Saat itu saya datang ke sana jam 1 siang. Saya naik ke lantai 1, saya lihat masih ada security, tapi dia tidak menegur. Tidak ada masalah. Saya sempat nge-review dan nge-live kondisi tangga,” ujar Ratu.
Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan hingga ke lantai empat. Saat sedang melakukan siaran langsung di area penjual emas, seorang petugas keamanan menghampirinya dan menanyakan tujuan kedatangannya.
Ratu mengaku sudah menjelaskan bahwa dirinya merupakan wartawan yang sedang melakukan siaran langsung.
“Saya sudah jelaskan, saya live, Pak. Saya lagi live TikTok. Saya sempat melihatkan penontonnya cukup banyak. Saya bilang, saya ke sini tujuannya baik kok, Pak. Saya hanya ingin melihatkan kondisi dan saya mempromosikan Pasar Pagi,” jelasnya.
Namun, petugas keamanan meminta Ratu untuk terlebih dahulu meminta izin kepada pengelola pasar.
Tak lama kemudian, sejumlah petugas keamanan lainnya datang ke lokasi. Ratu mengaku situasi tersebut membuat dirinya merasa tertekan.
“Yang akhirnya tersulut emosi karena saya juga merasa, mohon maaf, diintimidasi. Karena banyak sekali security yang menghampiri saya dan mengelilingi saya saat itu,” ungkapnya.
Ratu kemudian menyampaikan bahwa dirinya beranggapan Pasar Pagi merupakan ruang publik sehingga tidak perlu meminta izin untuk melakukan peliputan.
Perdebatan semakin memanas ketika Ratu mengaku mendapat perkataan yang dianggap tidak pantas dari salah seorang petugas keamanan.
“Saya bilang, saya media, saya media, Pak. Akhirnya ada Bapak Panji tersebut, security itu, yang akhirnya melontarkan kata-kata yang tidak pantas menurut saya, yang mengatakan bahwa media busuk,” tuturnya.
Perkataan tersebut membuat emosi Ratu semakin tersulut. Ia bahkan sempat mengatakan akan membawa persoalan tersebut ke jalur hukum.
“Nah, di situlah akhirnya emosi saya semakin tersulut, semakin panas. Akhirnya saya bilang saya tidak terima dengan perkataan itu, saya akan memviralkan,” katanya.
Namun, persoalan tersebut akhirnya diselesaikan melalui pertemuan bersama yang difasilitasi Dinas Perdagangan Kota Samarinda.
Dalam pertemuan tersebut, Panji Asmoro mengakui telah mengeluarkan perkataan yang tidak pantas dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
“Saya atas nama pribadi meminta maaf sebesar-besarnya atas kekhilafan saya mengucapkan kata-kata yang tidak pantas kepada media Busam.id,” ujar Panji.
Ia menyebut perkataan tersebut muncul karena dirinya terbawa emosi saat menjalankan tugas sebagai petugas keamanan.
“Saya betul-betul minta maaf. Ini sebagai pembelajaran saya. Ke depan saya tidak akan mengulangi lagi. Saya lebih menjaga diri agar bisa lebih sabar,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kota Samarinda, Nurrahmani, mengatakan pihaknya sengaja mempertemukan kedua pihak agar persoalan tersebut tidak berlarut-larut.
Nurrahmani mengaku telah melihat video yang beredar di media sosial. Namun, ia tidak ingin langsung menyalahkan salah satu pihak sebelum mendengar penjelasan secara langsung.
“Saya tidak bisa mengondisikan bahwa menyalahkan siapapun, karena kondisi ini berlangsung di lapangan. Jadi saya ingin mendengar secara langsung dari berbagai pihak,” jelas Nurrahmani.
Ia menegaskan tidak ada larangan bagi media untuk melakukan peliputan di Pasar Pagi.
Namun, pihak media diharapkan tetap berkomunikasi dengan pengelola, terutama jika hendak memasuki area tertentu yang memiliki pembatasan akses atau masih dalam proses pengerjaan.
“Ini bukan izin dalam arti harus bersurat. Yang penting berkomunikasi dengan pengelola,” katanya.
Menurut Nurrahmani, persoalan yang terjadi lebih kepada adanya perbedaan pemahaman mengenai SOP antara pihak media, pengelola dan petugas keamanan.
Karena itu, pertemuan tersebut diharapkan menjadi evaluasi bersama agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“SOP kita harus kita sinkronkan. Siapa tahu dari pihak media juga ada SOP sendiri, kami juga ada SOP sendiri. Jadi kita bertemu untuk saling berkomunikasi supaya ke depannya tidak ada miskomunikasi lagi,” pungkasnya.
Dengan adanya pertemuan tersebut, kedua pihak sepakat mengakhiri persoalan secara kekeluargaan dan tidak memperpanjang perselisihan yang sebelumnya sempat menjadi perhatian publik melalui media sosial. (Yanur)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id









