Pertamax Naik, Ojol Samarinda Terpaksa Beralih ke Pertalite untuk Jaga Penghasilan

oleh -202 Dilihat
Antrian panjang di jalur pengisian pertalite di salah satu SBPU Jl. Juanda (Foto : Yanur)
banner 468x60

Ulasankaltim.id, Samarinda – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax mulai memengaruhi aktivitas para pengemudi ojek online di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Di tengah kondisi pendapatan yang dinilai belum stabil, sebagian pengemudi memilih mengubah pola konsumsi BBM dengan beralih ke Pertalite guna menekan biaya operasional harian.

Perubahan tersebut terlihat di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Samarinda. Antrean kendaraan roda dua yang mengisi Pertalite dilaporkan semakin ramai setelah penyesuaian harga Pertamax diberlakukan.

Salah satu pengemudi ojek online, Abdurrahim, mengaku sebelumnya rutin menggunakan Pertamax untuk menunjang aktivitasnya di jalan. Namun, kenaikan harga membuatnya harus mempertimbangkan kembali pengeluaran operasional agar tetap seimbang dengan pendapatan yang diperoleh setiap hari.

Saat ditemui di SPBU kawasan Samarinda Ulu, Abdurrahim mengatakan keputusan beralih ke Pertalite diambil sebagai langkah penghematan. Menurutnya, kondisi orderan yang belum stabil membuat setiap pengeluaran harus diperhitungkan secara cermat.

“Orderan sekarang lagi sepi, sementara biaya BBM naik cukup jauh. Pendapatan sehari kadang tidak sampai Rp200 ribu, jadi mau tidak mau pindah ke Pertalite walaupun antreannya panjang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, biaya bahan bakar menjadi salah satu komponen utama pengeluaran harian bagi pengemudi ojek online. Ketika harga BBM meningkat, dampaknya langsung dirasakan terhadap besaran pendapatan bersih yang dapat dibawa pulang.

Menurut Abdurrahim, kondisi tersebut tidak hanya dialaminya sendiri. Sejumlah rekan sesama pengemudi juga mulai melakukan penyesuaian penggunaan BBM agar biaya operasional tetap terkendali.

Ia berharap pemerintah dapat mempertimbangkan dampak kebijakan harga BBM terhadap masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas transportasi dan pekerjaan lapangan.

Keluhan serupa disampaikan Hafli, pengemudi ojek online lainnya di Samarinda. Ia menilai kenaikan harga Pertamax memberikan tekanan tambahan terhadap pengeluaran harian para pekerja sektor informal yang bergantung pada kendaraan bermotor.

Hafli mengatakan kebutuhan pengisian BBM dalam sehari cukup tinggi, terutama saat menerima banyak pesanan dan harus menempuh perjalanan ke berbagai wilayah di kota.

“Kalau sehari harus isi BBM beberapa kali, pengeluaran jadi jauh lebih besar. Harapannya pemerintah bisa lebih memperhatikan kondisi masyarakat kecil seperti kami,” katanya.

Menurutnya, kenaikan biaya operasional tidak selalu diikuti dengan peningkatan jumlah pesanan maupun pendapatan. Akibatnya, margin keuntungan yang diperoleh pengemudi menjadi semakin terbatas.

Fenomena beralihnya pengguna Pertamax ke Pertalite menunjukkan adanya penyesuaian yang dilakukan masyarakat untuk menghadapi perubahan biaya hidup. Bagi pengemudi ojek online, langkah tersebut dianggap sebagai solusi sementara agar aktivitas bekerja tetap berjalan.

Di tengah tantangan ekonomi yang dihadapi, para pengemudi berharap terdapat kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan operasional dan kemampuan masyarakat dalam memenuhi biaya sehari-hari, sehingga sektor transportasi berbasis aplikasi tetap dapat menjadi sumber penghasilan yang layak bagi banyak pekerja di Samarinda. (Yanur)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *