Ulasankaltim.id, Samarinda – Harapan ratusan hingga ribuan peserta untuk mengikuti ajang Samarinda Half Marathon berubah menjadi kekecewaan. Sehari menjelang pelaksanaan lomba yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (20/6), puluhan peserta yang mendatangi lokasi pengambilan racepack dan starter kit di Taman Buah Jalan Slamet Riyadi, Kecamatan Sungai Kunjang, justru tidak menemukan panitia maupun penyelenggara.
Hingga Jumat (19/6) sore sekitar pukul 17.00 Wita, tidak terlihat aktivitas distribusi racepack sebagaimana yang sebelumnya diinformasikan kepada peserta. Situasi tersebut memicu kebingungan dan keresahan, terutama bagi peserta yang datang dari luar daerah dengan mengeluarkan biaya perjalanan dan akomodasi yang tidak sedikit.
Apriliadi Wijaya, peserta asal Balikpapan yang terdaftar pada kategori 21 kilometer, mengaku telah mendaftarkan diri sejak Desember 2025 dan melunasi biaya registrasi sekitar Rp300 ribu. Ia mengatakan sengaja datang dengan harapan dapat menikmati pengalaman berlari di Kota Samarinda, termasuk melintasi sejumlah ikon kota.
“Begitu tiba di lokasi, ternyata tidak ada panitia ataupun penyelenggara. Padahal promosi di media sosial sebelumnya sangat gencar, bahkan sempat membuka tambahan kuota peserta,” ujarnya.
Menurut Apriliadi, kondisi tersebut sangat mengecewakan karena peserta telah meluangkan waktu, tenaga, dan biaya untuk mengikuti kegiatan tersebut. Ia berharap penyelenggara segera memberikan penjelasan resmi sekaligus mempertanggungjawabkan komitmennya kepada para peserta.
Kekecewaan serupa disampaikan Sadrak, warga asli Samarinda. Ia menilai persoalan tersebut bukan hanya merugikan peserta, tetapi juga mencoreng nama baik Kota Samarinda dan identitas Kalimantan Timur.

“Saya sebagai orang Samarinda merasa dipermalukan dengan kejadian ini. Apalagi kegiatan ini menggunakan nama Samarinda dan menampilkan logo burung enggang yang merupakan ikon Kalimantan Timur. Jangan sampai ada oknum yang sembarangan memanfaatkan identitas daerah untuk kegiatan yang tidak bertanggung jawab,” katanya.
Ia bahkan mengajak peserta lain yang merasa dirugikan untuk membuat laporan bersama ke Polresta Samarinda agar proses hukum dapat berjalan lebih efektif.
Salman, peserta lainnya dari Samarinda, juga mengungkapkan rasa kecewanya karena telah mengajak sejumlah rekannya dari Jakarta untuk mengikuti ajang tersebut. Menurutnya, kegagalan penyelenggaraan ini turut berdampak pada citra daerah di mata tamu dari luar Kalimantan Timur.
“Kami sudah sering ikut event lari di berbagai daerah dan biasanya berjalan lancar. Teman-teman dari Jakarta datang khusus ke Samarinda, mengeluarkan biaya tiket pesawat, hotel, transportasi, dan lainnya. Tiba-tiba acara seperti ini bermasalah, tentu membuat kami malu sebagai tuan rumah,” ujarnya.
Sementara itu, Budi, peserta asal Jakarta, menilai dugaan permasalahan dalam penyelenggaraan event tersebut tidak hanya merugikan komunitas pelari, tetapi juga berpotensi berdampak pada sektor pariwisata dan ekonomi daerah.
“Di banyak daerah lain event seperti ini justru menjadi sarana mempromosikan UMKM dan destinasi wisata. Kami berharap aparat segera mengambil langkah agar kejadian serupa tidak terulang,” katanya.
Menyikapi kerumunan peserta di lokasi, personel Samapta Polresta Samarinda mendatangi Taman Buah untuk mengamankan situasi. IPDA Mat Bahri dari Piket Samapta Polresta Samarinda menjelaskan bahwa petugas menerima laporan adanya sekelompok masyarakat yang berkumpul di lokasi penyelenggaraan.
“Saat kami tiba, memang banyak masyarakat yang akan mengikuti kegiatan tersebut. Namun panitia tidak berada di lokasi,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran kepolisian bertujuan menjaga situasi tetap kondusif dan mencegah tindakan yang tidak diinginkan. Petugas juga mengimbau peserta yang merasa dirugikan untuk melaporkan kejadian tersebut secara resmi ke Polresta Samarinda.
“Sudah ada sebagian peserta yang membuat laporan. Bagi masyarakat lain yang merasa dirugikan, silakan melapor. Kami akan memproses laporan tersebut sesuai ketentuan yang berlaku,” tegasnya.
Hingga Jumat malam, belum ada penjelasan resmi dari pihak penyelenggara mengenai ketidakhadiran panitia di lokasi pengambilan racepack maupun kepastian pelaksanaan Samarinda Half Marathon. Para peserta pun masih menunggu kejelasan atas nasib kegiatan yang sebelumnya dipromosikan secara luas tersebut. (Yanur)










