buatkan narasi yang berbeda agar tidak sama dengan sebelumnya dan tidak dianggap plagiat dan buatkan menjadi berita dengan gaya junalis nasional

oleh -203 Dilihat
Lokasi Gempa di Palu (Foto BMKG)
banner 468x60

Ulasankaltim.id, Samarinda – Getaran gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6/2026) turut dirasakan sebagian warga di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Meski berada ratusan kilometer dari pusat gempa, sejumlah masyarakat mengaku sempat merasakan getaran ringan yang terjadi dalam beberapa detik.

Gempa tersebut terjadi sekitar pukul siang dan berpusat di wilayah tenggara Kota Palu, Sulawesi Tengah. Informasi awal yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa gempa berasal dari aktivitas tektonik dengan kekuatan magnitudo 6,7.

Hasil analisis BMKG menunjukkan pusat gempa berada sekitar 42 kilometer tenggara Palu dengan kedalaman 10 kilometer. Lokasi tersebut termasuk kawasan yang memiliki aktivitas tektonik cukup tinggi sehingga rentan terjadi pergerakan lempeng bumi.

Dampak getaran tidak hanya dirasakan di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah, tetapi juga menjangkau beberapa daerah di Kalimantan Timur. Di Samarinda, laporan masyarakat yang masuk menunjukkan adanya getaran dengan intensitas ringan.

Sebagian warga mengaku merasakan benda-benda yang tergantung di dalam rumah bergerak perlahan saat gempa terjadi. Namun, tidak semua masyarakat menyadari adanya guncangan karena intensitas yang dirasakan relatif lemah.

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG APT Pranoto Samarinda, Riza Arian Noor, menjelaskan bahwa fenomena tersebut merupakan hal yang cukup sering terjadi ketika gempa berkekuatan besar mengguncang wilayah Sulawesi atau kawasan Selat Makassar.

Menurutnya, posisi geografis Kalimantan Timur yang berhadapan langsung dengan Selat Makassar membuat efek getaran dari sejumlah gempa di Sulawesi masih dapat dirasakan hingga ke Samarinda.

Ia menyebutkan bahwa gempa yang terjadi di wilayah Palu, Majene, maupun kawasan perairan Selat Makassar kerap menimbulkan dampak serupa. Meski demikian, efek yang sampai ke Samarinda umumnya hanya berupa getaran ringan tanpa menimbulkan kerusakan.

Riza mengatakan tingkat guncangan yang dirasakan suatu daerah tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya magnitudo gempa. Faktor lain seperti jarak dari pusat gempa dan kondisi geologi setempat juga berperan dalam menentukan kekuatan getaran.

Selain itu, karakteristik tanah di suatu wilayah dapat memperkuat atau justru meredam getaran yang diterima di permukaan. Karena itu, intensitas yang dirasakan masyarakat di setiap daerah dapat berbeda meskipun berasal dari sumber gempa yang sama.

Saat ini BMKG masih melakukan pengumpulan data dan laporan dari masyarakat untuk mengetahui tingkat guncangan yang dirasakan di berbagai wilayah terdampak. Informasi tersebut menjadi bagian penting dalam proses analisis pascagempa.

Data yang terkumpul nantinya akan digunakan untuk menyusun peta intensitas gempa. Peta tersebut berfungsi menggambarkan tingkat kekuatan guncangan berdasarkan pengalaman masyarakat dan hasil pengamatan lapangan.

Di tengah munculnya laporan getaran yang dirasakan hingga Kalimantan Timur, BMKG memastikan gempa yang terjadi di Sulawesi Tengah tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat indikasi yang mengarah pada ancaman gelombang laut akibat peristiwa tersebut.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Warga diminta mengikuti perkembangan informasi melalui kanal resmi BMKG agar memperoleh data yang akurat terkait aktivitas kegempaan yang terjadi. (Fzi)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *