Marinir Beberkan Aturan Disiplin Selama Latsarmil SPPI, Pelanggar Langsung Diberi Sanksi

oleh -202 Dilihat
latihan dasar militer (Latsarmil) peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) (Foto : Instagram Kemenhanri)
banner 468x60

Ulasankaltim.id, Jakarta – Disiplin menjadi salah satu pilar utama dalam pelaksanaan latihan dasar militer (Latsarmil) bagi peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Setiap pelanggaran terhadap aturan selama masa pendidikan mendapat sanksi yang bersifat mendidik, mulai dari hukuman push up hingga sanksi kolektif bagi peserta yang mengabaikan kewajiban mengikuti kegiatan bersama.

Komandan Batalyon Latihan SPPI KDKMP dan KNMP di Brigif 1 Marinir Cilandak, Letkol (Mar) Agus Mutaqin, menjelaskan bahwa hukuman fisik diterapkan sebagai bagian dari pembinaan karakter agar peserta memiliki kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepatuhan terhadap tata tertib selama menjalani pendidikan.

Menurut Agus, salah satu pelanggaran yang paling sering mendapat sanksi adalah keterlambatan mengikuti apel pagi. Peserta yang datang terlambat, baik karena terlambat bangun maupun alasan lainnya, akan diminta melakukan push up sebanyak 10 hingga 15 kali sebagai bentuk konsekuensi atas pelanggaran yang dilakukan.

Ia menegaskan bahwa hukuman tersebut bukan bertujuan memberikan efek jera melalui tindakan yang berlebihan, melainkan menjadi sarana pembelajaran agar peserta terbiasa menghargai waktu dan menjalankan aturan yang telah ditetapkan selama pelatihan berlangsung.

Selain keterlambatan apel, pelatih juga memberikan sanksi kepada peserta yang tidak mengikuti kegiatan makan bersama. Menurut Agus, makan merupakan bagian penting dalam menjaga kondisi fisik peserta sehingga seluruh rangkaian kegiatan tersebut wajib diikuti secara disiplin.

Dalam kondisi tertentu, pelatih juga menerapkan hukuman secara kolektif. Langkah tersebut dilakukan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama sekaligus memperkuat kekompakan antarpeserta selama menjalani pendidikan di lingkungan Korps Marinir.

Meski demikian, Agus memastikan seluruh bentuk hukuman disesuaikan dengan kemampuan fisik masing-masing peserta. Standar pembinaan yang diterapkan tidak disamakan dengan prajurit aktif sehingga aspek keselamatan dan kesehatan tetap menjadi prioritas utama selama latihan berlangsung.

Di sisi lain, pelatih tidak hanya menerapkan sanksi, tetapi juga memberikan penghargaan kepada peserta yang menunjukkan prestasi maupun kedisiplinan selama mengikuti program. Pemberian penghargaan diharapkan mampu meningkatkan motivasi peserta untuk terus menunjukkan kinerja terbaik.

Agus mengatakan hingga saat ini seluruh rangkaian latihan dasar militer berjalan aman, tertib, dan kondusif. Seluruh peserta mengikuti program sesuai jadwal yang telah disusun oleh penyelenggara.

Ia berharap seluruh proses pendidikan dapat diselesaikan dengan baik sehingga para peserta memperoleh bekal pengetahuan, kedisiplinan, dan karakter yang nantinya dapat diterapkan saat menjalankan tugas dalam pengelolaan Koperasi Desa Merah Putih.

Dalam pelaksanaannya, penyelenggara juga memberikan perhatian khusus terhadap kondisi kesehatan peserta. Mereka yang memiliki riwayat penyakit kronis atau gangguan kesehatan tertentu tidak dilibatkan dalam aktivitas yang membutuhkan kemampuan fisik tinggi.

Agus menjelaskan peserta dengan kondisi kesehatan khusus dipisahkan berdasarkan kelompok peleton maupun kompi. Kebijakan tersebut dilakukan agar mereka tetap dapat mengikuti pendidikan tanpa menghadapi risiko yang dapat membahayakan kondisi kesehatannya.

Data mengenai kondisi kesehatan peserta diperoleh dari hasil pemeriksaan medis sebelum pendidikan dimulai. Berdasarkan hasil tersebut, pelatih menentukan materi yang dapat diikuti oleh masing-masing peserta sesuai kemampuan fisik mereka.

Peserta yang tidak diperkenankan mengikuti latihan lapangan tetap memperoleh materi pembelajaran di dalam kelas. Sementara peserta dengan kondisi fisik yang dinyatakan layak mengikuti berbagai kegiatan lapangan, mulai dari apel pagi, latihan Peraturan Baris Berbaris (PBB), hingga latihan keterampilan dasar militer lainnya.

Sebanyak 674 peserta SPPI mengikuti program latihan dasar militer selama sekitar satu setengah bulan di Markas Pasmar I Cilandak, Jakarta. Mereka dibagi ke dalam empat kompi dan menjalani berbagai materi, termasuk latihan menembak yang dijadwalkan berlangsung pada pekan ketiga. Seluruh rangkaian pendidikan tersebut dirancang untuk membentuk sikap disiplin, meningkatkan jiwa nasionalisme, serta membekali peserta dengan kemampuan dasar sebelum menjalankan penugasan berikutnya, termasuk mendukung pengelolaan Koperasi Desa Merah Putih. (Mad)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *