Saat Mahasiswa Turun ke Jalan, Ojol di Samarinda Mengaku Kehilangan Peluang Cari Nafkah

oleh -202 Dilihat
Salah satu driver ojek online merasa terganggu saat aksi penutupan jembatan mahakam berlangsung (Foto : Ist)
banner 468x60

Ulasankaltim.id, Samarinda – Aksi unjuk rasa yang digelar ratusan mahasiswa di kawasan Jalan Slamet Riyadi, tepatnya di sekitar turunan Jembatan Mahakam, Kamis (18/6/2026), tidak hanya menjadi wadah penyampaian aspirasi politik, tetapi juga memunculkan keluhan dari warga yang terdampak langsung oleh kemacetan lalu lintas.

Sejak sore hari, massa yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) memadati area sekitar jembatan sambil menyampaikan tuntutan melalui orasi dan aksi simbolik. Lokasi yang dipilih merupakan salah satu jalur vital penghubung arus kendaraan di Kota Samarinda.

Kehadiran ratusan peserta aksi menyebabkan pergerakan kendaraan melambat. Antrean panjang terlihat di sejumlah titik sekitar lokasi demonstrasi, membuat waktu tempuh pengguna jalan meningkat dibandingkan kondisi normal.

Di tengah kepadatan lalu lintas tersebut, seorang pengemudi ojek online menyuarakan keberatannya kepada peserta aksi. Ia menilai kemacetan yang terjadi secara langsung memengaruhi pekerjaannya sebagai pencari nafkah harian.

Menurut pengemudi itu, setiap menit yang terbuang di jalan berdampak pada jumlah pesanan yang dapat diselesaikan. Situasi tersebut membuat peluang memperoleh penghasilan menjadi semakin terbatas.

Ia mengaku tidak mempermasalahkan hak mahasiswa untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Namun, ia berharap pelaksanaan aksi tetap mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat yang sedang bekerja.

Keluhan serupa juga disampaikan sejumlah pengguna jalan lainnya. Mereka menilai penyampaian aspirasi merupakan bagian dari kebebasan berekspresi, tetapi pelaksanaannya diharapkan tidak menghambat aktivitas warga secara luas.

Sementara itu, pihak penyelenggara aksi menegaskan demonstrasi dilakukan untuk menyuarakan berbagai persoalan yang dinilai berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Mereka menyebut aksi tersebut sebagai bentuk kontrol publik terhadap kebijakan pemerintah.

Humas GERAM, Maulana, mengatakan massa membawa lima tuntutan utama dalam aksi tersebut. Tuntutan itu mencakup penurunan harga bahan bakar minyak dan kebutuhan pokok yang dinilai semakin membebani masyarakat.

Selain itu, mahasiswa juga meminta penghentian tindakan represif terhadap masyarakat sipil, evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), penghentian program Koperasi Desa Merah Putih, serta penataan penggunaan anggaran negara agar lebih efektif.

Tak hanya itu, massa turut mendesak agar hak angket segera dibahas dalam rapat paripurna. Menurut mereka, langkah tersebut diperlukan untuk memperkuat fungsi pengawasan terhadap berbagai kebijakan yang menjadi sorotan publik.

Maulana mengungkapkan bahwa peserta aksi sempat mempertimbangkan penutupan akses Jembatan Mahakam sebagai bagian dari strategi demonstrasi. Meski demikian, ia menegaskan tujuan utama aksi tetap berfokus pada penyampaian tuntutan kepada pemerintah.

Demonstrasi berlangsung hingga sekitar pukul 20.30 Wita dengan pengamanan aparat kepolisian. Petugas juga melakukan pengaturan lalu lintas guna meminimalkan dampak kemacetan yang ditimbulkan selama kegiatan berlangsung.

Mahasiswa menegaskan akan terus mengawal tuntutan yang mereka suarakan apabila belum mendapat tanggapan dari pemerintah maupun lembaga legislatif. Mereka menyebut pemilihan lokasi aksi di sekitar Jembatan Mahakam sebagai simbol kekecewaan terhadap para pemangku kebijakan yang dinilai belum cukup responsif terhadap aspirasi masyarakat. (Fzi)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *