Ribuan Porsi Bubur Asyura Dibagikan Langgar Al Falah, Tradisi Berbagi Warga Samarinda Terus Berlanjut

oleh -202 Dilihat
Pembagian Bubur asyuro oleh panitia ke warga (Foto : Yanur)
banner 468x60

Ulasankaltim.id, Samarinda –  Suasana di Langgar Al Falah, Jalan Muso Salim, Kamis (25/6), dipenuhi semangat kebersamaan Sejak pagi hari, warga bergotong royong menyiapkan Bubur Asyura yang menjadi tradisi tahunan di 10 Muharam. Tahun ini, panitia mengolah sekitar 215 kilogram beras yang diperkirakan menghasilkan lebih dari 3.000 porsi untuk dibagikan kepada masyarakat.

Kesibukan sudah terlihat sejak fajar. Warga bahu-membahu menyiapkan bahan, mengaduk bubur di beberapa kawah besar, hingga memastikan proses memasak berjalan lancar. Menjelang waktu Ashar, antrean masyarakat mulai mengular di depan langgar.

Usai salat Ashar, panitia bersama warga memanjatkan doa bersama sebelum akhirnya membuka pagar dan mempersilakan masyarakat masuk secara tertib untuk menerima Bubur Asyura. Sebagian warga datang membawa wadah makanan sendiri, sementara bagi yang tidak membawa tempat, panitia telah menyiapkan kemasan untuk dibagikan.

Perwakilan Langgar Al Falah, Habib Muhammad bin Alwi Assegaf, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan rutinitas yang telah dilaksanakan selama beberapa tahun terakhir dan terus berkembang berkat dukungan masyarakat.

“Alhamdulillah, ini adalah kegiatan rutin pembagian Bubur Asyura di Langgar Al Falah. Dulu masih dilakukan secara perorangan di lingkungan gang-gang sekitar, tetapi sekarang kita satukan di langgar sehingga pelaksanaannya lebih terkoordinasi,” tuturnya.

Menurutnya, jumlah Bubur Asyura yang dimasak tahun ini meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Seluruh bahan berasal dari sumbangan masyarakat yang ingin ikut berpartisipasi dalam tradisi berbagi tersebut.

“Kalau tahun ini sekitar 215 kilogram beras. Insya Allah hasilnya lebih dari 3.000 porsi dan mudah-mudahan semuanya habis dibagikan kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa antusiasme warga terus meningkat setiap tahun. Bahkan, demi memenuhi kebutuhan produksi, panitia menambah jumlah kawah yang digunakan untuk memasak menjadi lima hingga enam buah.

“Perbedaannya dengan tahun lalu, keinginan masyarakat untuk berbagi semakin besar. Ini benar-benar dari masyarakat untuk masyarakat. Kami hanya menjadi wasilah atau perantara agar niat baik itu bisa tersalurkan,” katanya.

Tradisi pembagian Bubur Asyura di Langgar Al Falah sendiri telah berjalan sekitar empat tahun sejak dipusatkan di langgar, meski kegiatan serupa disebut sudah dilakukan jauh sebelumnya oleh masyarakat sekitar.

Bagi Habib Muhammad, kegiatan ini bukan sekadar membagikan makanan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meneladani ajaran para nabi dan mempererat nilai kepedulian sosial.

“Harapan kami sederhana, yaitu membahagiakan Baginda Nabi Muhammad SAW dan mengikuti sunnah para nabi terdahulu. Tradisi Bubur Asyura ini menjadi momentum untuk berbagi dan memperkuat rasa kebersamaan di tengah masyarakat,” jelasnya.

Jika sebelumnya pembagian hanya difokuskan bagi warga di lingkungan RT sekitar, kini Bubur Asyura dibuka untuk masyarakat umum tanpa memandang asal wilayah.

“Sekarang siapa pun boleh datang. Kami membuka untuk semua masyarakat. Bahkan kalau ada yang dari tempat yang cukup jauh, kami menyarankan memanfaatkan layanan transportasi seperti ojek daring sehingga selain memudahkan warga, juga ikut menggerakkan perekonomian,” pungkasnya.

Dengan ribuan porsi yang dibagikan dan semangat gotong royong yang terjaga, tradisi Bubur Asyura di Langgar Al Falah kembali menjadi simbol kuatnya budaya berbagi dan solidaritas sosial di Kota Samarinda. (Yanur)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *