Kapolsek: Motif Asmara Picu Pengeroyokan Siswi SD, Sembilan Orang Dalam Pemeriksaan

oleh -419 Dilihat
Kapolsek Samarinda Seberang, AKP A. Baihaki (Foto : Fer)
banner 468x60

Ulasankaltim.id, Samarinda – Kasus pengeroyokan terhadap seorang siswi sekolah dasar di Samarinda menggegerkan publik setelah video kekerasan tersebut beredar luas di media sosial. Peristiwa ini terjadi pada Jumat, 2 Mei 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional.

Kejadian berlangsung di kawasan Folder Perumahan Haji Saleh, Kelurahan Tani Aman, Kecamatan Loa Janan Ilir, Samarinda. Korban, siswi berusia 12 tahun, mengalami kekerasan fisik oleh sejumlah pelajar.

Kapolsek Samarinda Seberang, AKP A. Baihaki, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah mengamankan sembilan remaja yang diduga terlibat dalam insiden tersebut.

“Tindakan cepat kami lakukan setelah video itu viral. Semua pelajar yang terekam dalam video sudah kami amankan,” ujar Baihaki saat diwawancarai, Jumat (2/5/2025).

Dalam rekaman berdurasi singkat yang tersebar, tampak korban dipukul, ditendang, bahkan diseret hingga terjatuh ke tanah oleh beberapa pelajar.

Menurut Baihaki, seluruh pelaku masih berstatus sebagai anak di bawah umur sehingga belum ditetapkan sebagai tersangka.

“Saat ini status mereka masih sebagai saksi. Kami sedang mendalami peran masing-masing karena tidak semuanya terlibat langsung dalam aksi pemukulan,” jelasnya.

Penyelidikan sementara menunjukkan bahwa insiden ini dipicu oleh perselisihan di media sosial yang berkembang menjadi tuduhan perebutan pacar.

“Tidak ada perjanjian untuk bertemu di lokasi. Tapi korban dijemput dari rumah dan dibawa ke tempat kejadian,” terang Baihaki.

Korban mengalami luka di beberapa bagian tubuh, termasuk kepala, punggung, dan paha. Ia sempat menjalani perawatan medis di RSUD AW Syahranie.

Selain luka fisik, korban juga mengalami trauma psikis. Ia kini sulit berinteraksi dengan orang di sekitarnya.

Junedi (43), ayah korban, mengatakan bahwa putrinya sering menangis dan menunjukkan ketakutan saat melihat orang lain.

“Dia berubah drastis. Baru lihat orang saja sudah menangis. Kami khawatir dengan kondisinya sekarang,” ujar Junedi.

Pihak keluarga berharap proses hukum berjalan adil, meski para pelaku masih di bawah umur. Mereka juga meminta pendampingan psikologis untuk anaknya.

Sementara itu, pihak kepolisian terus memeriksa saksi-saksi tambahan, termasuk teman korban dan pelaku yang berada di lokasi.

Baihaki juga mengimbau masyarakat, terutama orang tua, untuk lebih memperhatikan aktivitas anak-anak, terutama dalam penggunaan media sosial.

“Permasalahan ini muncul karena saling ejek di media sosial. Ini harus jadi perhatian serius bagi orang tua dan lingkungan,” tambahnya.

Ia menyebut pengaruh media sosial terhadap perilaku remaja sangat besar dan dapat memicu tindakan agresif tanpa disadari.

Polisi berjanji akan menangani kasus ini dengan pendekatan yang mengedepankan keadilan restoratif, mengingat pelaku masih di bawah umur.

Meski begitu, penegakan hukum tetap akan dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Kasus ini menyoroti pentingnya pengawasan terhadap interaksi anak di dunia maya serta kebutuhan akan pendidikan karakter sejak dini.

Pihak sekolah dan dinas pendidikan setempat juga diminta berperan aktif dalam pembinaan pelajar dan pencegahan kekerasan antarsiswa. (Fer)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *