Ulasankaltim.id, Samarinda – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Samarinda diwarnai dengan pesan mendalam mengenai perlindungan kedaulatan bangsa di era modern.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi bangsa saat ini tidak lagi selalu berwujud ancaman fisik yang terlihat mata.
Dalam pandangannya, arus informasi digital yang tidak terkendali justru membawa potensi bahaya terselubung berupa penyebaran hoaks, narasi provokatif, dan paham primordialisme sempit.
Pernyataan krusial tersebut disampaikan usai kepemimpinannya dalam Upacara Detik-Detik Proklamasi yang berlangsung penuh hikmat di Halaman GOR Segiri Samarinda pada Senin (17/8).
Di hadapan peserta upacara, ia menekankan bahwa perayaan kemerdekaan sepatutnya dijadikan batu pijakan untuk memperdalam rasa nasionalisme serta rasa cinta pada Tanah Air.
Meski demikian, pengabdian terhadap negara dinilai tidak boleh berhenti sebatas ritual seremoni tahunan belaka tanpa diimbangi tindakan nyata.
Masyarakat diimbau untuk menyadari secara kolektif bahwa memelihara keutuhan Bangsa Indonesia membutuhkan perjuangan berkelanjutan yang penuh tantangan.
Mengingat rekam jejak sejarah global, perpecahan besar di berbagai belahan dunia kerap berakar dari akumulasi disinformasi dan kabar bohong yang dibiarkan meluas.
Perbedaan mendasar di era modern terletak pada laju persebaran informasi; jika dahulu disebarkan secara konvensional, kini teknologi digital membuat narasi penyesat menyebar secara instan.
Wali Kota Samarinda menggarisbawahi agar kemajuan teknologi informasi yang kian pesat tidak melenceng menjadi pemicu keretakan atau konflik sosial di tengah warga.
Kekhawatiran tersebut beralasan seiring maraknya pemanfaatan ruang siber untuk melontarkan tuduhan negatif kepada jajaran kepemimpinan nasional hingga membenturkan isu kedaerahan.
Penetrasi paham primordial yang sempit dan ujaran kebencian di media sosial dinilai dapat menjelma menjadi ancaman serius bagi integrasi nasional jika tidak segera diantisipasi.
Oleh sebab itu, momentum perayaan Hari Kemerdekaan seyogianya dijadikan sarana kontemplasi untuk mengingat kembali besarnya pengorbanan para pahlawan bangsa.
Seluruh lapisan warga diimbau untuk mengambil peran aktif dalam menjaga kestabilan negara melalui kontribusi nyata, baik dalam skala besar maupun kecil.
Apabila seseorang merasa belum sanggup memberikan kontribusi positif bagi daerah atau negaranya, tindakan terbaik adalah dengan tidak menciptakan kegaduhan atau kerusakan.
Secara khusus bagi masyarakat Kalimantan Timur dan Samarinda, nilai persatuan dan kesatuan harus senantiasa dijadikan benteng utama dalam menghadapi dinamika zaman.
Meskipun dinamika pembangunan dan roda pemerintahan tak luput dari kekurangan, semangat gotong royong dalam keberagaman diyakini mampu membawa Indonesia menuju cita-cita masyarakat yang adil dan makmur. (Yanur)









