Hadapi Puncak Kemarau 2026, Samarinda Perketat Pengawasan Hotspot dan Kualitas Udara

oleh -203 Dilihat
Foto Illustrasi Chatgpt
banner 468x60

Ulasankaltim.id, Samarinda – Langit Samarinda dalam beberapa hari terakhir masih diselimuti hujan yang turun bergantian dengan cuaca panas. Di tengah kondisi yang tidak menentu itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda mulai memperkuat langkah antisipasi menghadapi ancaman musim kemarau panjang dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diprediksi meningkat dalam beberapa bulan ke depan.

BPBD Samarinda menilai kesiapsiagaan perlu dilakukan lebih awal mengingat prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut puncak musim kemarau 2026 diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu munculnya titik-titik api di sejumlah wilayah rawan.

Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan musim kemarau tahun ini sebenarnya telah mulai berlangsung sejak Maret 2026. Namun, posisi geografis Samarinda yang berada di kawasan garis khatulistiwa membuat hujan masih berpotensi turun meski berada dalam periode kemarau.

“Menurut prediksi BMKG, kemarau ini akan mencapai puncaknya di bulan Agustus dan sudah dimulai sejak Maret. Namun Samarinda yang berada di garis khatulistiwa masih memungkinkan terjadi hujan walaupun dalam periode kemarau,” ujar Suwarso, Minggu (17/5/2026).

Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Samarinda bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan sejumlah instansi terkait mulai melakukan gladi kesiapsiagaan. Langkah itu dilakukan untuk memastikan seluruh personel dan peralatan siap digunakan ketika terjadi kebakaran lahan maupun bencana akibat cuaca ekstrem.

BPBD juga memperkuat koordinasi lintas sektor dengan melibatkan Dinas Pemadam Kebakaran, relawan kebencanaan, hingga desa tangguh bencana. Kolaborasi itu dinilai penting agar penanganan titik api dapat dilakukan lebih cepat sebelum api meluas ke area yang lebih besar.

“Kami membangun kolaborasi dengan berbagai perangkat daerah, damkar, relawan, hingga desa tangguh bencana. Harapannya ketika ada titik api kecil bisa segera ditangani agar tidak meluas,” kata Suwarso.

Selain kesiapan personel di lapangan, BPBD Samarinda turut mengoptimalkan pemantauan titik panas menggunakan aplikasi Sipongi dan sejumlah sistem pemantauan lainnya. Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk mendeteksi potensi kebakaran secara dini sehingga langkah penanganan dapat segera dilakukan.

Di sisi lain, BPBD juga tetap mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir. Curah hujan yang masih terjadi dalam beberapa hari terakhir dinilai dapat memicu genangan di sejumlah kawasan perkotaan apabila saluran drainase tidak berfungsi optimal.

Suwarso menyebut Wali Kota Samarinda telah menginstruksikan sejumlah organisasi perangkat daerah melakukan pembersihan drainase. Pembersihan dilakukan terhadap endapan lumpur dan gulma yang dinilai menjadi salah satu penyebab tersumbatnya aliran air saat hujan turun dengan intensitas tinggi.

Langkah mitigasi tidak hanya difokuskan pada potensi karhutla di wilayah Samarinda. Pemerintah kota juga mengantisipasi kemungkinan kiriman asap dari daerah lain di Kalimantan, seperti Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, yang kerap mengalami kebakaran lahan saat musim kemarau.

Untuk menghadapi potensi penurunan kualitas udara, BPBD bersama pemerintah daerah menyiapkan pemantauan kualitas udara secara berkala. Pemerintah juga menyiapkan pembagian masker kepada masyarakat apabila kondisi udara dinilai mulai membahayakan kesehatan.

“Kalau kualitas udara berisiko, masyarakat harus segera menggunakan masker,” pungkas Suwarso. (Fzi)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *