Ulasankaltim.id, Samarinda – Di tengah keterbatasan layanan kesehatan hewan di Kalimantan Timur, sebuah harapan baru mulai dirajut dari dunia pendidikan tinggi. Universitas Mulawarman tengah mematangkan langkah besar dengan merancang pembukaan Program Studi Kedokteran Hewan sebagai solusi atas kelangkaan dokter hewan di wilayah tersebut.
“Prodi ini kami siapkan untuk menjawab kebutuhan riil di daerah,” ujar Darlis.
Dukungan politik pun mengalir untuk memperkuat inisiatif tersebut. DPRD Provinsi Kalimantan Timur secara tegas menyatakan komitmennya dalam mengawal proses pendirian program studi baru tersebut.
“Kami mendukung penuh karena ini menyangkut kepentingan publik jangka panjang,” kata Darlis.
Sekretaris Komisi IV DPRD Kaltim, Darlis Pattalongi, memastikan bahwa seluruh syarat administrasi yang diminta oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah dipenuhi oleh pihak universitas.
“Semua dokumen utama sudah siap,” ujarnya.
Menurut Darlis, tahapan yang tersisa saat ini hanyalah proses teknis pengunggahan berkas ke sistem kementerian.
“Prosesnya tinggal unggah dokumen secara digital, dan rekomendasi dari para pemangku kepentingan juga hampir tuntas,” tuturnya.
Ia mengungkapkan bahwa animo masyarakat Kalimantan Timur terhadap bidang kedokteran hewan terbilang tinggi.
“Hasil survei internal menunjukkan sekitar 80 hingga 85 persen calon mahasiswa sangat tertarik pada program studi ini,” katanya.
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan ketersediaan tenaga medis hewan di lapangan. Darlis menyebut banyak fasilitas kesehatan hewan belum memiliki dokter.
“Masih ada puskesmas hewan yang kosong tanpa dokter, ini menunjukkan kebutuhan sangat mendesak,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa rasio sumber daya manusia di sektor kesehatan hewan belum seimbang dengan luas wilayah dan jumlah populasi ternak.
“Jumlah tenaga yang ada belum mampu mengimbangi kebutuhan layanan yang terus meningkat,” katanya.
Lebih jauh, Darlis menekankan pentingnya peran dokter hewan dalam menjaga keamanan pangan dan mencegah penularan penyakit dari hewan ke manusia.
“Dokter hewan berperan strategis dalam menjaga kualitas pangan asal hewan dan mengendalikan zoonosis,” jelasnya.
Dari sisi kesiapan akademik, pihak universitas menargetkan tahapan administrasi rampung pada tahun 2025.
“Target kami seluruh berkas sudah masuk tahun ini agar proses bisa segera berjalan,” ujar Darlis.
Jika rencana tersebut berjalan tanpa hambatan, penerimaan mahasiswa baru ditargetkan dimulai pada tahun akademik 2026 dengan kuota awal 50 orang.
“Kami optimistis kuota itu bisa terpenuhi dan menjadi fondasi awal lahirnya Fakultas Kedokteran Hewan di Kaltim,” pungkasnya. (DPRD KALTIM/ADV/Fzi)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id









