Yulianus Henock Tekankan Pendidikan Karakter Sebagai Tameng Pemuda di Era Global

oleh -339 Dilihat
banner 468x60

Ulasankaltim.id, Kutai Timur – Suasana khidmat terasa di Bengalon, Kutai Timur, saat ratusan pemuda berkumpul untuk mendengarkan pemaparan tentang pentingnya nilai kebangsaan di era global.

Acara tersebut berlangsung pada 29 Juli 2025, ketika Anggota DPD RI asal Kalimantan Timur, Dr. Yulianus Henock Sumual, SH, M.Si, melaksanakan kegiatan Sosialisasi Ke-VI MPR RI di daerah pemilihannya.

Kegiatan ini digelar di Sepaso, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, dengan melibatkan pemuda-pemudi dari GPSDI Gerbang Indah, Yayasan Cinta Damai, serta TK Sola Gratia. Kehadiran mereka menandai pentingnya dialog antara wakil rakyat dan generasi penerus bangsa.

Dalam kesempatan itu, Yulianus Henock menekankan bahwa globalisasi membawa peluang sekaligus tantangan yang besar bagi pemuda. Informasi, budaya, dan gaya hidup dari luar negeri kini mudah diakses melalui internet dan media sosial.

Namun, menurutnya, arus global yang deras tersebut berpotensi mengikis identitas bangsa jika tidak diimbangi dengan pemahaman nilai kebangsaan yang kuat. “Pemuda adalah ujung tombak masa depan. Mereka harus dibentengi dengan karakter dan jati diri bangsa,” tegas Yulianus Henock.

Diskusi berjalan interaktif. Salah satu pertanyaan yang muncul dari peserta adalah mengapa penting menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada pemuda di era globalisasi. Pertanyaan ini menjadi pintu masuk untuk membahas peran strategis generasi muda.

Yulianus Henock menjelaskan bahwa tanpa fondasi kebangsaan, pemuda akan mudah terpengaruh oleh budaya luar yang belum tentu sesuai dengan nilai luhur bangsa Indonesia. “Cinta tanah air, semangat persatuan, dan rasa tanggung jawab harus terus dijaga,” ujarnya.

Ia menambahkan, pendidikan kebangsaan adalah tameng yang mampu melindungi pemuda dari pengaruh negatif globalisasi seperti individualisme, konsumtivisme, dan lunturnya solidaritas sosial. Nilai gotong royong, toleransi, serta semangat Bhinneka Tunggal Ika menjadi kunci.

Selain itu, pendidikan karakter juga dipandang penting untuk membentuk generasi muda yang tangguh. Nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, kerja keras, dan kepedulian sosial dianggap perlu ditanamkan sejak dini.

Kegiatan ini turut menekankan bahwa pemuda harus dibekali integritas, empati, dan sikap kritis. “Dengan pendidikan karakter, mereka bukan hanya cerdas, tetapi juga bijak dalam mengambil keputusan di tengah dunia yang semakin kompleks,” katanya.

Peserta tampak antusias mengikuti sesi diskusi. Mereka menilai materi yang disampaikan relevan dengan tantangan nyata yang mereka hadapi sehari-hari, terutama terkait pengaruh media sosial dan gaya hidup modern.

Dari sesi tanya jawab, muncul pula harapan agar pendidikan karakter tidak hanya menjadi teori di ruang kelas. Peserta meminta agar metode pembelajaran lebih kreatif, misalnya melalui simulasi, studi kasus, hingga pemanfaatan media digital.

Beberapa saran juga mengemuka, di antaranya agar pemerintah dan lembaga pendidikan lebih mengintegrasikan nilai kebangsaan dalam kurikulum maupun kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan sosial dan pelatihan kepemimpinan dinilai bisa memperkuat pemahaman itu.

Selain sekolah, keluarga dan masyarakat juga dianggap punya peran besar dalam membentuk karakter pemuda. Teladan dari orang tua, guru, dan tokoh masyarakat disebut akan memperkuat nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, sebagian peserta menilai bahwa pemuda sering menganggap pendidikan kebangsaan membosankan. Untuk itu, para pendidik diminta menghadirkan pendekatan baru yang lebih interaktif agar materi terasa dekat dengan realitas generasi digital.

Acara ini ditutup dengan ajakan untuk terus mengamalkan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, serta Bhinneka Tunggal Ika. Henock menegaskan, nilai-nilai tersebut harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar pengetahuan.

Dengan berakhirnya kegiatan sosialisasi ini, harapannya pemuda di Kutai Timur semakin siap menghadapi arus globalisasi. Mereka tidak hanya mampu bersaing di tingkat dunia, tetapi juga tetap memegang teguh jati diri sebagai anak bangsa Indonesia. (Fzi)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *