Ulasankaltim.id, Samarinda – Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Dr. Yulianus Henock Sumual, SH, M.Si., menggelar kegiatan sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, pada Minggu (29/6/25).
Acara ini mengangkat tema “Empat Pilar MPR RI Sebagai Landasan Pembentuk SDM yang Berkarakter” dan diikuti oleh ratusan warga Purwodadi serta sejumlah tokoh masyarakat setempat.
Sosialisasi tersebut bertujuan untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap Empat Pilar MPR RI, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.
Dalam pemaparannya, Dr. Yulianus menyampaikan bahwa empat pilar tersebut bukan sekadar simbol, melainkan fondasi penting dalam membentuk sumber daya manusia (SDM) yang kuat, berkarakter, dan adaptif di tengah tantangan global.
Ia menyoroti derasnya arus globalisasi yang membawa nilai-nilai asing ke tengah kehidupan masyarakat melalui teknologi dan media digital. Menurutnya, tanpa landasan ideologis yang kokoh, masyarakat bisa kehilangan arah dan jati diri.
“Globalisasi tidak bisa dihindari, tetapi bisa disikapi dengan bijak. Nilai-nilai luhur bangsa harus menjadi filter utama dalam menyerap pengaruh luar,” jelasnya.
Dalam sesi dialog, peserta terlihat aktif mengajukan pertanyaan seputar peran Empat Pilar dalam membentengi generasi muda dari krisis identitas budaya. Sebagian besar khawatir akan pengaruh budaya luar yang semakin dominan di ruang-ruang publik dan digital.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Dr. Yulianus menegaskan pentingnya pendidikan karakter sejak usia dini. Ia menyebut bahwa Pancasila harus menjadi bagian dari praktik kehidupan sehari-hari, bukan hanya materi hafalan.
Ia juga menyoroti perlunya sistem pendidikan yang lebih seimbang—tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga penguatan karakter, etika, dan kecakapan sosial.
Dalam paparannya, ia menyampaikan empat strategi utama dalam pengembangan SDM, yaitu peningkatan kualitas hidup fisik dan mental, pemerataan akses pendidikan berkualitas, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta penguatan pranata hukum dan kelembagaan.
Menurutnya, masyarakat modern dituntut memiliki daya saing tinggi, namun tetap berpijak pada nilai-nilai kebudayaan bangsa agar tidak tercerabut dari akar nasionalnya.
Sosialisasi ini juga menjadi ruang refleksi bersama akan pentingnya menjaga keberagaman dalam bingkai persatuan nasional. Nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika disebut sebagai pengikat kebangsaan di tengah perbedaan.
Beberapa peserta mengusulkan agar kegiatan seperti ini dilakukan lebih rutin dan merata hingga ke pelosok. Mereka juga menyarankan agar materi Empat Pilar dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan formal sejak tingkat dasar.
Menanggapi hal tersebut, Dr. Yulianus menyampaikan apresiasi atas antusiasme warga. Ia menilai bahwa membumikan nilai-nilai kebangsaan adalah tanggung jawab bersama antara negara, masyarakat, dan lembaga pendidikan.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan pembagian materi cetak mengenai Empat Pilar MPR RI kepada seluruh peserta sebagai bahan edukasi lanjutan.
Antusiasme warga menjadi indikator bahwa nilai-nilai dasar kebangsaan tetap relevan dan dibutuhkan, terutama di tengah derasnya perubahan sosial dan budaya yang terjadi saat ini. (Fzi)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id









