Yulianus Henock: Empat Pilar Kunci Merawat Persatuan Bangsa di Daerah Multietnis

oleh -301 Dilihat
Anggota DPD RI Dr. Yulianus Henock Sumual, SH, M. SI saat melakukan sosialisasi kepada warga (Foto : Fzi)
banner 468x60

Ulasankaltim.id, Samarinda – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Dr. Yulianus Henock Sumual, SH, M.Si, menggelar kegiatan Sosialisasi Ke-VII Empat Pilar Kebangsaan di Java Café, Jalan Ahmad Yani, Kota Samarinda, Sabtu (13/12/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman kebangsaan di wilayah dengan tingkat keberagaman sosial yang tinggi.

Sosialisasi tersebut dilaksanakan bersama Ikatan Keluarga Jawa (IKJ) Kota Samarinda dan dihadiri sekitar 150 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang. Kehadiran warga lintas usia dan komunitas menegaskan tingginya antusiasme masyarakat terhadap isu persatuan dan kebangsaan.

Mengusung tema “Merawat Persatuan dalam Kemajemukan: Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di Tengah Keberagaman Suku”, kegiatan ini menyoroti pentingnya menjaga kohesi sosial di tengah realitas masyarakat multietnis, khususnya di Kalimantan Timur yang menjadi rumah bagi beragam suku dan budaya.

Dalam pemaparannya, Yulianus menekankan bahwa Empat Pilar Kebangsaan—Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI—merupakan fondasi utama kehidupan berbangsa. Menurutnya, nilai-nilai tersebut berfungsi sebagai penuntun agar interaksi antarsuku berlangsung setara dan saling menghormati.

“Pancasila mengajarkan kemanusiaan dan persatuan sebagai pedoman hidup bersama, sehingga perbedaan adat dan tradisi tidak menjadi sumber konflik, melainkan kekayaan bangsa yang harus dirawat,” ujar Yulianus di hadapan peserta.

Ia menjelaskan, UUD 1945 menjadi payung hukum yang menjamin hak setiap warga negara tanpa membedakan latar belakang suku, sementara Bhinneka Tunggal Ika menegaskan bahwa keragaman adalah identitas nasional, bukan ancaman bagi persatuan. “NKRI mengikat seluruh elemen bangsa dalam satu cita-cita bersama,” tambahnya.

Yulianus juga menilai bahwa pemahaman Empat Pilar sangat relevan untuk menghadapi tantangan sosial yang kerap muncul di wilayah majemuk, seperti stereotip, kesenjangan, dan potensi konflik lokal. Menurutnya, nilai kebangsaan memberikan kerangka etis dan konstitusional dalam menyelesaikan perbedaan secara damai.

“Ketika nilai-nilai ini dipahami secara utuh, masyarakat tidak lagi melihat perbedaan sebagai alasan untuk saling berhadapan, melainkan sebagai peluang untuk berkolaborasi dan memperkuat solidaritas nasional,” kata Yulianus.

Ia menambahkan, sosialisasi Empat Pilar menjadi penting karena daerah multietnis memiliki identitas lokal yang kuat. Tanpa pemahaman kebangsaan yang menyeluruh, perbedaan tersebut berpotensi memicu gesekan sosial jika tidak dikelola dengan baik.

Melalui pendekatan dialogis, peserta diajak melihat keselarasan antara nilai luhur dalam adat dan budaya lokal dengan prinsip kebangsaan. Pancasila, menurut Yulianus, tidak bertentangan dengan kearifan lokal, melainkan memperkuat nilai gotong royong, keadilan, dan penghormatan antarmanusia.

Kegiatan ini juga menekankan perlunya keterlibatan tokoh adat, pemuka agama, organisasi kemasyarakatan, dan pemuda dalam menyebarluaskan pesan persatuan. Kolaborasi lintas elemen dinilai efektif untuk membangun ruang dialog yang sehat dan berkelanjutan.

Di akhir kegiatan, Yulianus menegaskan bahwa tujuan sosialisasi bukan sekadar pemahaman konseptual. “Yang paling penting adalah praktik nyata—aksi kebersamaan, dialog lintas budaya, dan komitmen bersama untuk menjaga keutuhan NKRI,” ujarnya menutup kegiatan. (Fzi)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *