Ulasankaltim.id, Samarinda — Suasana tegang sempat terlihat di halaman GOR Kadrie Oening, Samarinda, Jumat (31/10) pagi. Ratusan personel kepolisian tampak berhadapan dengan puluhan massa yang berteriak dan mendorong barikade petugas.
Namun, keributan itu bukan kejadian sebenarnya. Aparat Polresta Samarinda bersama Polda Kalimantan Timur tengah melaksanakan simulasi Sistem Pengamanan Kota (SISPAMKOTA) untuk melatih kesiapsiagaan pengamanan aksi massa di wilayah hukum Samarinda.
Kegiatan ini melibatkan ratusan personel gabungan dari unsur Polri, TNI, Satpol PP, Palang Merah Indonesia (PMI), serta sejumlah organisasi masyarakat kedaerahan. Tujuannya untuk memastikan seluruh pihak siap menghadapi berbagai potensi gangguan keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat.
Kapolda Kalimantan Timur Irjen Pol Endar Priantoro menjelaskan, pelatihan ini penting untuk memastikan aparat memahami prosedur dan standar pengamanan aksi unjuk rasa, mulai dari tahap aman hingga situasi dengan eskalasi tinggi.
“Hari ini kita melakukan pelatihan simulasi sistem keamanan kota. Sebagai aparat negara, kita harus siap dalam kondisi apapun,” ujar Irjen Endar.
“Latihan ini bertujuan memotivasi anggota agar secara teknis dan taktis memahami bagaimana pengamanan aksi, mulai dari situasi aman, saat mulai ada keributan, hingga situasi terburuk.
Semua dilakukan agar pengamanan sesuai dengan aturan dan tetap menjamin hak asasi manusia serta kebebasan masyarakat dalam menyampaikan pendapat,” jelasnya.
Irjen Endar menambahkan, kegiatan simulasi juga menjadi wadah untuk memperkuat sinergi antar-stakeholder, termasuk TNI, Satpol PP, dan elemen masyarakat. Ia berharap masyarakat memahami bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen kepolisian dalam menjaga keamanan dan menjamin hak warga untuk berpendapat secara damai.
Sementara itu, Kapolresta Samarinda Kombes Pol Hendri Umar menjelaskan bahwa simulasi SISPAM Kota kali ini menggambarkan secara lengkap proses penanganan aksi unjuk rasa, mulai dari tahapan awal hingga potensi kerusuhan.
“Tadi rekan-rekan bisa lihat, simulasi dimulai dari situasi umum, lalu kedatangan massa aksi, hingga munculnya eskalasi. Kami libatkan tim negosiator, Dalmas awal, Dalmas lanjutan, hingga pasukan penanggulangan huru-hara dari Satbrimob,” terang Hendri.
“Dalam tahap akhir, kami juga libatkan Detasemen 45 anti-anarkis, yang bertugas khusus menghadapi massa perusuh apabila situasi sudah tidak terkendali,” tambahnya.
Melalui simulasi ini, Polresta Samarinda berharap seluruh personel memiliki kesiapan optimal dalam menghadapi situasi nyata di lapangan, terutama dalam menjamin keamanan masyarakat dan menjaga ketertiban umum tanpa mengabaikan prinsip kemanusiaan. (Fzi)









