Ulasankaltim.id, Samarinda – Suasana hangat namun penuh keseriusan terasa di Kelurahan Palaran, Samarinda, Kamis (14/8). Aparat kepolisian, pemerintah daerah, dan tokoh lintas agama berkumpul untuk satu tujuan: mencegah berkembangnya paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme di tengah masyarakat.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Polri bekerja sama dengan Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Samarinda serta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Samarinda. Acara dikemas dalam bentuk sosialisasi dan dialog kebangsaan yang mengangkat tema “Pencegahan Paham Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme di Kota Samarinda.”
Hadir dalam kegiatan tersebut, Kombes Eko Budiarto, S.I.K., M.H., Kaban Kesbangpol Samarinda H. Sucipto Wasis, S.Pd., M.Si., serta Ketua FKUB Samarinda KH. Muhammad Zaini Naim. Sejumlah pimpinan pondok pesantren, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh adat turut menjadi peserta aktif dalam diskusi.
Dalam paparannya, Kombes Eko Budiarto menjelaskan bahwa proses radikalisasi umumnya bermula dari sikap intoleran. Sikap ini kemudian berkembang menjadi paham radikal, dan pada tahap tertentu, dapat berujung pada tindakan terorisme.
Ia juga membeberkan sejumlah modus operandi yang digunakan kelompok teroris, mulai dari penyebaran ideologi melalui media sosial hingga rekrutmen langsung di lingkungan masyarakat. Menurutnya, generasi muda menjadi salah satu target utama kelompok ini karena dianggap mudah dipengaruhi.
“Harapan kita, kegiatan seperti ini dapat membentuk jiwa nasionalis yang kuat sehingga tidak mudah terprovokasi atau terpengaruh paham yang menyesatkan,” ujar Eko.
Sementara itu, Kaban Kesbangpol Samarinda, H. Sucipto Wasis, menekankan pentingnya peran pendidik, tokoh agama, dan tokoh masyarakat dalam membangun kesadaran akan pentingnya toleransi. Ia menilai kolaborasi semua pihak diperlukan untuk membentuk generasi muda yang berkarakter, memiliki wawasan kebangsaan, dan siap memimpin bangsa di masa depan.
“Generasi muda adalah aset bangsa. Mereka perlu dibekali dengan pemahaman yang benar tentang kebinekaan dan semangat persatuan,” ujarnya.
Peserta kegiatan yang terdiri dari tokoh agama, tokoh masyarakat, serta pimpinan pondok pesantren mengaku memperoleh banyak informasi baru. Mereka menilai, penjelasan yang disampaikan para narasumber memberikan gambaran nyata tentang ancaman paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme.
Selain materi pencegahan, dialog juga membahas strategi penguatan nilai-nilai kebangsaan di tingkat akar rumput. Beberapa peserta bahkan mengusulkan agar kegiatan serupa digelar secara berkala di wilayah lain di Samarinda.
Kegiatan ditutup dengan komitmen bersama untuk terus memperkuat persatuan dan menjaga kerukunan antarumat beragama. Para peserta berharap, sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat dapat menjadi benteng kuat melawan pengaruh paham yang merusak tatanan kehidupan berbangsa. (Fzi)









