Ulasankaltim.id, Samarinda – Ketika jalanan dipenuhi suara teriakan demonstran, wartawan tetap berdiri di garis depan untuk merekam setiap peristiwa. Namun, di tengah riuhnya aksi, keselamatan mereka kerap dipertaruhkan.
Kepolisian Resor Kota (Polresta) Samarinda menegaskan komitmennya menjaga keamanan jurnalis yang bertugas di lapangan. Hal ini disampaikan Kepala Seksi Humas Polresta Samarinda, Ipda Novi Hari Setyawan, pada Jumat (29/8).
Menurut Novi, setiap pengamanan unjuk rasa di Samarinda dilakukan secara terukur. Aparat ditugaskan memastikan penyampaian pendapat berjalan tertib tanpa merugikan masyarakat maupun insan pers.
“Kalau aksi berlangsung normal tentu aman. Namun ketika terjadi kericuhan, kami sangat menyayangkan bila jurnalis ikut menjadi korban. Dalam kondisi kacau memang sulit membedakan peserta aksi dan wartawan,” ujar Novi.
Ia menambahkan, situasi lapangan sering kali tidak dapat diprediksi. Aparat harus bertindak cepat meredam keributan, sehingga risiko salah sasaran terhadap jurnalis tetap terbuka.
Untuk mencegah hal itu, Polresta Samarinda mengimbau wartawan selalu membawa dan menunjukkan identitas resmi ketika meliput aksi. Identitas, kata Novi, menjadi penanda penting bagi aparat dalam membedakan wartawan dengan peserta unjuk rasa.
“Kami mengingatkan teman-teman media agar membawa ID card. Dengan begitu, petugas di lapangan lebih mudah mengenali bahwa mereka wartawan, bukan bagian dari massa,” jelasnya.
Terkait usulan penggunaan rompi khusus bagi jurnalis, Novi menilai ide tersebut positif. Ia menyebut, pihaknya akan meneruskan gagasan itu kepada pimpinan untuk ditindaklanjuti.
“Di sejumlah daerah sudah ada rompi pers untuk memudahkan aparat mengenali jurnalis. Usulan itu bagus dan akan kami sampaikan ke pimpinan. Semoga bisa diwujudkan di Samarinda,” ungkapnya.
Dengan pengenal tambahan, Novi berharap jurnalis dapat bekerja lebih aman, sementara aparat tidak ragu mengambil tindakan saat harus mengurai massa.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa kepolisian memahami peran vital pers dalam demokrasi. Wartawan, katanya, tidak hanya melaporkan kejadian, tetapi juga menjembatani informasi akurat antara masyarakat dan pemerintah.
“Peran media sangat penting. Mereka menyampaikan fakta ke publik agar masyarakat mendapat informasi yang benar. Tugas kami bukan hanya menjaga ketertiban, tapi juga memastikan jurnalis dapat bekerja aman,” tambahnya.
Novi menilai sinergi antara aparat keamanan dan media perlu terus diperkuat. Dengan komunikasi yang baik, aksi massa dapat diliput secara aman, sementara polisi tetap menjaga kondusivitas.
“Polisi dan media harus saling memahami. Aparat menjaga ketertiban, media menjalankan fungsi kontrol sosial. Dengan kerja sama yang baik, keduanya bisa berjalan seiring demi kepentingan masyarakat,” tutupnya. (Fzi)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id









