Lapar di Tanah Sendiri: Keluarga Lansia Samarinda Menunggu Uluran Pemerintah

oleh -276 Dilihat
Rumah dari warisan orang tua Mariawati dan Masniah (Foto : Ist)
banner 468x60

Ulasankaltim.id, Samarinda – Di sebuah sudut permukiman padat di Samarinda Seberang, sepenggal cerita tentang ketangguhan hidup mengemuka dari rumah sederhana di Kelurahan Mesjid. Di tempat itulah Mariawati, perempuan berusia 60 tahun, bersama suaminya, Slamet Riadi, dan kakaknya, Masniah, berjuang memenuhi kebutuhan dasar di tengah keterbatasan yang kian mengimpit.

Keluarga lansia tersebut mengakui situasi yang mereka hadapi sudah melewati batas kemampuan. Slamet Riadi, yang puluhan tahun menjadi relawan pemadam kebakaran tanpa gaji tetap, tidak lagi mampu menutup kebutuhan harian keluarganya yang semakin berat.

Mariawati menuturkan bahwa ia merasa terpinggirkan dalam penyaluran bantuan sosial di lingkungan tempat tinggalnya. Ia menyebut mayoritas tetangga menerima bantuan, sementara keluarganya tidak tercatat sebagai penerima, meski hidup dalam kesulitan.

“Kanan kiri dapat semua, tapi kami tidak. Saya bingung, apa yang salah? Padahal kami ini benar-benar butuh,” ujarnya dengan suara tertahan saat ditemui.

Puncak tekanan bagi keluarga ini terjadi belum lama ini ketika Ketua RT datang mengantarkan sebakul nasi. Namun lauk yang tersedia hanya seekor ikan, yang kemudian harus dibagi bertiga di antara mereka.

Mariawati mengaku tidak mampu menahan tangis ketika makan hidangan sederhana itu. Menurutnya, momen tersebut menggambarkan betapa terdesaknya kondisi keluarga mereka sehari-hari.

Kesulitan bertambah ketika mereka hendak memasak ikan tersebut, tetapi gas elpiji sudah habis. Ia dihadapkan pada pilihan yang sulit: membeli gas yang tak terjangkau, atau membeli beras untuk bertahan di hari berikutnya.

Situasi semakin parah ketika keluarga ini pernah menjalani dua hari tanpa makanan, bergantung pada air putih dan satu bungkus mie instan yang dibagi untuk tiga orang. Kondisi itu mereka sebut sebagai hari tersulit yang pernah dialami.

Untuk menggerakkan roda hidup, Mariawati mengandalkan keterampilannya membuat ketupat. Setiap hari ia mampu menuntaskan 100 ketupat, namun upah yang diterima hanya Rp10.000 per 100 buah, dan pembayarannya sering ditunda oleh pembeli.

Ia menyebut pendapatan mingguannya tidak menentu. Kadang hanya menerima Rp150.000 hingga Rp200.000, jauh dari cukup untuk kebutuhan tiga orang dalam satu rumah.

Di samping pendapatan serba terbatas, rumah mereka juga mengalami kerusakan. Tidak adanya jendela membuat air mudah masuk saat hujan turun. Pada malam hari, nyamuk menyerbu, mengganggu istirahat keluarga yang sudah kelelahan.

Mariawati mengaku pernah mendatangi kantor kelurahan untuk mengurus bantuan sosial. Namun prosedur yang rumit dan kurangnya pendampingan membuat ia gagal menyelesaikan formulir yang diberikan. Upayanya berhenti di meja administrasi.

Ia berharap pemerintah dapat memperbaiki mekanisme pendataan penerima bantuan agar benar-benar menyentuh warga yang membutuhkan. Menurutnya, bantuan sosial seharusnya disalurkan secara tepat, tanpa memandang kedekatan atau status sosial.

Dalam harapannya, ia menyebut pernyataan Presiden terpilih yang menekankan penyaluran bantuan tepat sasaran. Mariawati berharap kebijakan tersebut tidak berhenti pada pernyataan, tetapi benar-benar dirasakan oleh masyarakat kecil seperti dirinya.

Secara khusus, ia meminta perhatian dari Wali Kota Samarinda, Andi Harun. Mariawati berharap pemerintah kota dapat memberikan modal usaha atau bantuan sembako untuk meringankan beban hidup keluarganya yang terus meningkat.

Melalui kisah ini, keluarga Mariawati ingin menyampaikan pesan bahwa masih banyak warga yang membutuhkan perhatian serius. Mereka berharap pengalaman yang mereka alami dapat menjadi masukan bagi pemerintah agar penyaluran bantuan benar-benar menjangkau masyarakat yang berada pada titik paling rentan. (Fzi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *