Reza Fachlevi Tegaskan Pentingnya Komitmen Industri untuk Anak Muda Kaltim

oleh -270 Dilihat
Akhmed Reza Fachlevi, Anggota DPRD Kalimantan Timur (Foto : Fzi)
banner 468x60

Ulasankaltim.id, Samarinda – Di tengah meningkatnya jumlah anak muda yang menuntaskan pendidikan setiap tahun, Kalimantan Timur justru dihadapkan pada kenyataan pahit: peluang kerja yang disediakan industri belum mampu mengejar derasnya arus kelulusan. Realitas ini kembali mengemuka setelah DPRD Kaltim menyoroti kesenjangan besar antara harapan lulusan dan kesempatan yang tersedia.

Anggota DPRD Kaltim, Akhmed Reza Fachlevi, menjadi salah satu pihak yang angkat suara mengenai kondisi tersebut. Ia menilai penyerapan tenaga kerja lokal masih berjalan lambat dan belum sesuai dengan potensi daerah.

Berdasarkan data yang ia paparkan, lembaga pendidikan di Kaltim menghasilkan sekitar 52 ribu lulusan setiap tahun. Namun sebagian besar dari mereka menghadapi tantangan besar saat memasuki dunia kerja.

Reza menyebut bahwa keterbatasan peluang kerja menjadi kendala paling nyata.

“Banyak lulusan yang tidak langsung terserap karena daya tampung industri masih sangat terbatas,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa sektor industri perlu menunjukkan komitmen lebih kuat untuk membuka akses yang lebih besar bagi tenaga lokal, terutama lulusan baru yang sedang mencari pijakan awal dalam karier mereka.

“Kesempatan pertama bagi lulusan baru sangat menentukan masa depan mereka. Karena itu industri seharusnya memberikan porsi lebih besar bagi putra-putri daerah,” tutur Reza.

Politisi muda Partai Gerindra itu juga menyoroti ketimpangan antara jumlah lulusan dan lapangan kerja yang tersedia. Menurutnya, kondisi ini semakin menciptakan penumpukan pencari kerja dari tahun ke tahun.

Ia menegaskan bahwa grafik kelulusan yang terus meningkat tidak sejalan dengan pertumbuhan peluang kerja.

“Jumlah lowongan belum mampu mengikuti angka kelulusan. Ini masalah struktural yang harus segera diatasi,” katanya.

Selain persoalan daya tampung, Reza menilai dunia pendidikan dan industri masih belum berjalan dalam ritme yang sama. Kurikulum pendidikan dianggap belum sepenuhnya menjawab kebutuhan tenaga kerja di sektor usaha.

Di sinilah konsep link and match kembali menjadi sorotan. Menurut Reza, hubungan antara institusi pendidikan dan industri harus lebih terarah agar lulusan memiliki keahlian yang benar-benar dibutuhkan di lapangan.

“Prinsip link and match perlu diterapkan secara konsisten. Ketidaksinkronan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri masih sering terjadi,” tegasnya.

Ia berharap kolaborasi intensif antara pemerintah daerah, dunia pendidikan, dan pelaku industri dapat segera dirumuskan, sehingga Kaltim mampu menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih seimbang dan inklusif bagi generasi muda. (DPRD KALTIM/ADV/Fzi)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *