Ulasankaltim.id, Sangatta — Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Dr. Yulianus Henock Sumual, SH, M.Si., menggelar kegiatan sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Gereja Bethel Indonesia Sangatta, Minggu (11/5/2025).
Kegiatan ini mengusung tema “Empat Pilar MPR RI Sebagai Landasan Pembentuk SDM yang Berkarakter” dan diikuti oleh ratusan jemaat serta tokoh masyarakat setempat.
Empat Pilar MPR RI yang dimaksud mencakup Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika. Empat fondasi ini kembali ditegaskan sebagai nilai dasar dalam membentuk sumber daya manusia (SDM) yang berkarakter di tengah derasnya arus globalisasi.
Dalam sesi tanya jawab, peserta antusias menggali lebih dalam tentang bagaimana peran Empat Pilar dalam membentuk karakter dan kepribadian bangsa, khususnya generasi muda yang terpapar pengaruh budaya luar.
Menanggapi hal tersebut, Dr. Yulianus menekankan pentingnya ketahanan ideologis masyarakat. Menurutnya, globalisasi tidak bisa dihindari, namun bisa disikapi secara bijak dengan menjadikan nilai-nilai luhur bangsa sebagai filter utama.
Ia menyatakan bahwa pengaruh teknologi dan informasi, terutama internet, membuat arus nilai-nilai asing masuk dengan cepat dan luas. Tanpa fondasi kebangsaan yang kuat, masyarakat akan mudah terombang-ambing.
“Solusinya adalah kembali ke jati diri bangsa melalui Empat Pilar. Di sinilah pentingnya pendidikan karakter sejak dini,” ujarnya
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa Pancasila sebagai ideologi bangsa bukan hanya konsep, tetapi harus menjadi landasan berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.
Dr. Yulianus juga menyoroti pentingnya sistem pendidikan yang tidak hanya fokus pada aspek akademis, tetapi juga pembangunan karakter.
Pendidikan agama, pelatihan keterampilan, dan pembinaan berkelanjutan dinilainya sebagai bagian penting dari strategi pembangunan SDM unggul dan produktif.
Ia menyebutkan empat kebijakan pokok dalam peningkatan SDM, yakni kualitas hidup jasmani dan rohani, pemerataan kualitas SDM, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), serta penguatan pranata hukum dan kelembagaan.
Menurutnya, tantangan zaman modern menuntut masyarakat memiliki daya saing tinggi tanpa kehilangan identitas sebagai bangsa yang berbudaya.
Pesan utama dalam sosialisasi ini adalah pentingnya membentengi diri dengan nilai-nilai Pancasila dan menjaga keberagaman dalam bingkai persatuan nasional.
Beberapa peserta memberikan saran agar kegiatan sosialisasi semacam ini dilakukan secara rutin, tidak hanya terbatas pada agenda tertentu dari anggota DPD atau MPR.
Saran lainnya adalah memasukkan pendidikan Empat Pilar ke dalam kurikulum formal sejak jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Dr. Yulianus menyambut baik masukan tersebut. Ia menilai, keberlanjutan sosialisasi Empat Pilar merupakan tanggung jawab bersama, tidak hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat dan institusi pendidikan.
Ia berharap, dengan penguatan nilai-nilai kebangsaan, generasi muda Indonesia mampu menjadi pelaku perubahan yang tetap berakar pada budaya dan jati diri nasional.
Kegiatan sosialisasi ini diakhiri dengan doa bersama dan penyerahan materi cetak terkait Empat Pilar kepada para peserta.
Antusiasme peserta menunjukkan bahwa nilai-nilai kebangsaan masih sangat relevan dan dibutuhkan di tengah kompleksitas zaman modern.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa menjaga karakter bangsa bukan hanya tugas masa lalu, melainkan tanggung jawab bersama untuk masa depan Indonesia. (Fzi)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id









