Ulasankaltim.id, Samarinda – Komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda dalam menuntaskan persoalan genangan air menahun yang melanda kawasan Jalan Pasundan, pemukiman seputaran Rumah Sakit Dirgahayu, hingga koridor Jalan Merbabu kini memasuki babak krusial. Proyek infrastruktur berupa pembangunan sodetan di kawasan Jalan Gunung Cermai resmi digarap sebagai solusi struktural guna memutus siklus banjir yang telah membebani warga selama puluhan tahun.
Saluran air strategis ini dirancang khusus untuk memotong jalur dan mempercepat pembuangan debit air langsung menuju muara Sungai Mahakam. Melalui keberadaan sodetan tersebut, laju limpasan air hujan di titik-titik rawan genangan diharapkan dapat terdistribusi secara instan sehingga durasi banjir di pemukiman warga dapat tereduksi secara signifikan.
Kendati demikian, bergulirnya aktivitas konstruksi skala besar ini membawa konsekuensi langsung terhadap mobilitas masyarakat di pusat kota. Ruas penghubung utama, khususnya di perlintasan Jalan Gajah Mada dan Jalan RE Martadinata, kini mengalami penyempitan yang berpotensi memicu perlambatan laju kendaraan di sekitar area proyek.
Guna mencegah kekacauan sirkulasi kendaraan, Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Samarinda bergerak cepat dengan menerapkan manajemen rekayasa arus lalu lintas. Kebijakan pengaturan jalan ini telah dimatangkan secara komprehensif bersama jajaran Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda sebelum aktivitas fisik di lapangan resmi dimulai.
Kepala Unit Pengaturan, Penjagaan, Pengawalan, dan Patroli (Kanit Turjawali) Satlantas Polresta Samarinda, Iptu Ismail Marzuki, menegaskan bahwa seluruh aspek teknis terkait Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin) telah disepakati bersama lintas instansi atas instruksi langsung pimpinan kepolisian lalu lintas setempat.
“Berdasarkan perintah dari Pak Kasat Lantas, secara teknis Andalalinnya itu sudah dirapatkan,” ungkap Iptu Ismail Marzuki saat memaparkan kesiapan pengamanan jalur transportasi di Samarinda.
Iptu Ismail memaparkan, fokus pengerjaan tahap awal menyasar area sisi kanan dari arah Jalan Gajah Mada menuju Jalan RE Martadinata. Titik penggalian dan pemasangan infrastruktur saluran air ini berlokasi persis di kawasan seberang kantor Bank Tabungan Negara (BTN).
“Untuk pelaksanaan rekayasa proyek drainase yang dikerjakan pertama itu di sisi sebelah kanan dari Gajah Mada ke RE Martadinata, tepatnya di depan seberangnya Bank BTN,” jelas Ismail merinci lokasi titik pengerjaan.
Demi menjaga denyut aktivitas masyarakat agar tidak lumpuh total, pihak kepolisian bersama pelaksana proyek memastikan tidak menerapkan skema penutupan jalan secara menyeluruh. Petugas tetap membuka akses satu lajur agar moda transportasi roda dua maupun roda empat pribadi tetap dapat melintas, meskipun kapasitas ruang jalan menyusut drastis.
“Untuk roda empat dan roda dua tetap bisa melintasi depan trafik Cermai, cuma terjadi perlambatan. Ada dimensinya, satu jalur dibagi dua sisi kendaraan,” imbuhnya menerangkan skema pembagian lajur darurat tersebut.
Khusus armada angkutan berdimensi besar seperti truk roda enam atau kendaraan berat sejenis, Satlantas Polresta Samarinda memberlakukan larangan melintas di area pekerjaan. Seluruh kendaraan bertonase besar diarahkan beralih menuju rute Jalan Ir. H. Juanda demi mencegah penumpukan beban jalan.
“Untuk roda enam bisa lewat Juanda,” tegas Ismail terkait pembatasan jenis kendaraan di zona pengerjaan sodetan.
Penerapan sterilisasi kendaraan bertonase berat ini dinilai sangat mendasar tidak hanya untuk menjaga stabilitas sirkulasi kendaraan, tetapi juga demi menjamin faktor keselamatan kerja bagi para petugas konstruksi di lokasi galian serta pengguna jalan lainnya.
Satlantas turut memetakan periode rentan kepadatan yang diprediksi terjadi pada jendela jam sibuk harian. Lonjakan volume kendaraan diperkirakan memuncak pada pagi hari saat pergerakan anak sekolah dan jam masuk kantor, serta berulang kembali pada sore hari ketika arus kepulangan para pekerja berlangsung serentak.
“Imbauannya kepada pengguna jalan, khususnya memakai jalan yang ke Gajah Mada dan sebagainya agar antisipasi jam-jam padat dari jam pagi antara sekolah sampai sore, dari atas jam 3 sampai jam 6 sore,” imbau Ismail kepada seluruh warga pengguna jalan.
Menyikapi potensi hambatan tersebut, kepolisian mengimbau para pengendara untuk mengatur ulang jadwal keberangkatan secara cermat, memilih jalan alternatif bila memungkinkan, serta senantiasa mematuhi rambu-rambu petunjuk dan instruksi personel lalu lintas yang bertugas di lapangan.
Dari sisi operasional konstruksi, pengerjaan sodetan ini dipacu secara intensif selama 24 jam penuh tanpa henti. Walaupun secara jadwal awal fisik ditargetkan bergulir pada 24 Agustus, penyesuaian teknis di lapangan membuat aktivitas konstruksi baru efektif berjalan pada hari Rabu dengan estimasi perampungan tahap pertama hingga akhir pekan sekitar 28 Agustus.
“Pelaksanaan itu di tanggal 24, tapi agak molor pelaksanaan di hari Rabu hari ini. Ditutup total cuma satu lajur yang bisa masih untuk arus lalu lintasnya. Insyaallah mudah-mudahan satu sampai dua hari bisa cepat dibuka kembali,” tambah Ismail menerangkan perkembangan progres lapangan.
Setelah pengerjaan di sisi kanan tuntas dan jalur kembali dinormalisasi, proyek akan beralih menyasar sisi sebaliknya, yakni dari arah Jalan RE Martadinata menuju Jalan Gajah Mada. Kepolisian bersama dinas terkait akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dinamika lalu lintas pekan pertama sebelum memberikan rekomendasi teknis untuk pembukaan segmen lanjutan tersebut. (Yanur)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id









