Operasi SAR Mahakam Teluk Lerong Ditutup, Jenazah Albizar Dibawa ke Rumah Duka

oleh -202 Dilihat
Tim SAR gabungan saat mengevakuasi jenazah korban tenggelam dari perairan Sungai Mahakam kawasan Teluk Lerong, Samarinda, (Foto : Yanur)
banner 468x60

Ulasankaltim.id, Samarinda – Operasi pencarian intensif terhadap seorang bocah laki-laki yang dilaporkan tenggelam di perairan Sungai Mahakam, kawasan Teluk Lerong, Samarinda, Kalimantan Timur, akhirnya membuahkan hasil pada Jumat (25/9/2026) petang. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah upaya penyisiran tanpa henti berlangsung selama lebih dari satu hari.

Jasad korban teridentifikasi bernama Albizar (11), warga beralamat di RT 10 Kelurahan Teluk Lerong Ilir, Kecamatan Samarinda Ulu. Regu penyelamat berhasil mengevakuasi tubuh korban pada pukul 15.40 WITA di titik yang berjarak sekitar 20 meter dari lokasi awal peristiwa nahas tersebut dilaporkan terjadi.

Keberhasilan penemuan ini sekaligus mengakhiri operasi SAR gabungan yang telah bergulir selama kurang lebih 26 jam sejak insiden pertama kali dilaporkan. Upaya evakuasi mengandalkan sinergi lintas instansi keselamatan perairan demi melacak keberadaan korban di tengah bentang sungai terpanjang di Kalimantan Timur tersebut.

Pamapta II Polresta Samarinda, Ipda Fardan Wijaya, mengonfirmasi bahwa penanganan insiden darurat ini mengerahkan kekuatan penuh tim gabungan. Sedikitnya 25 personel terlatih dikerahkan ke lokasi perairan dengan melibatkan berbagai satuan fungsional kepolisian, otoritas pencarian, serta potensi masyarakat.

Unsur gabungan yang terjun langsung ke perairan mencakup jajaran Polairud Polresta Samarinda, Basarnas Samarinda, Ditpolairud Polda Kalimantan Timur, hingga jaringan sukarelawan kemanusiaan setempat. Kerja sama terpadu tersebut berfokus menelusuri setiap jengkal titik koordinat yang dicurigai.

“Alhamdulillah telah ditemukan adik kita setelah kurang lebih 26 jam pencarian. Kita dibantu rekan-rekan relawan dan kurang lebih berjumlah 25 orang gabungan,” tutur Ipda Fardan Wijaya saat memberikan keterangan di sekitar lokasi dermaga pencarian.

Dalam strategi teknis di lapangan, tim penyisir memetakan area pencarian di permukaan hingga radius 100 meter dari titik hilang. Dari pemetaan permukaan tersebut, konsentrasi pencarian kemudian diarahkan secara vertikal menuju palung dasar sungai yang memiliki kedalaman mencapai 17,5 meter.

Koordinator Pos SAR Samarinda, Aries Setiawan, menyatakan bahwa keberhasilan penemuan jasad korban pada hari kedua operasi merupakan hasil kerja keras penyelam yang mengatasi keterbatasan jarak pandang dan dinamika arus air.

“Hari ini hari kedua pencarian, alhamdulillah sudah dapat ditemukan oleh SAR gabungan,” ungkap Aries Setiawan menegaskan rampungnya fase kritis operasi penyelamatan pada Jumat petang.

Untuk menjangkau kedalaman dasar Mahakam, otoritas SAR menerjunkan sebanyak enam personel penyelam bersertifikasi khusus. Arus bawah permukaan yang sangat deras serta tingkat kekeruhan air yang pekat menjadi rintangan terbesar yang dihadapi para personel di bawah air.

Kondisi hidrologi di kawasan Teluk Lerong terkenal memiliki pergerakan arus bawah yang menekan dan tidak teratur. Faktor alam ini menuntut kehati-hatian ekstra bagi para penyelam agar tidak membahayakan keselamatan diri mereka selama bermanuver di kedalaman puluhan meter.

Berdasarkan laporan para penyelam yang bertugas, posisi tubuh korban ditemukan berada di dekat bebatuan dasar sungai pada kedalaman 17,5 meter. Posisi korban terhenti pada celah batu berjarak 20 meter dari titik terjatuhnya, diduga tertahan akibat hempasan arus dasar perairan.

Pelaksanaan manuver penyelaman dirancang secara ketat dengan membagi personel berdasarkan profil batas kedalaman tertentu. Skema ini diterapkan guna memastikan seluruh strata lapisan perairan tersisir merata tanpa ada area blank spot dari permukaan sampai ke lantai dasar sungai.

Di samping membagi lapis kedalaman, tim bawah air terpaksa menerapkan metode taktil atau meraba kontur dasar sungai secara manual. Hal tersebut tak terhindarkan lantaran visibilitas air yang mendekati nol akibat sedimentasi lumpur sungai Mahakam.

Metode perabaan manual tersebut difokuskan pada sejumlah cekungan sempit dan rongga batuan dasar perairan. Struktur bentang alam bawah air yang tidak rata semacam itu dinilai paling berpotensi menahan atau menjepit objek yang terseret aliran arus bawah.

Begitu lokasi korban terkonfirmasi secara pasti di kedalaman 17,5 meter, proses pengangkatan tubuh korban ke permukaan perahu karet langsung dilakukan secara cepat dan hati-hati. Isak tangis keluarga dan warga pecah sesaat setelah kantong evakuasi tiba di bibir dermaga tepian Mahakam.

Setelah proses stabilisasi dan pembersihan awal di darat selesai dilakukan, jenazah korban langsung dipindahkan ke ambulans darurat. “Korban selanjutnya dibawa ke rumah duka,” pungkas Aries Setiawan seraya menutup secara resmi operasi pencarian korban tenggelam tersebut. (Yanur)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *