Ulasankaltim.id, Samarinda – Di bawah sengatan terik matahari dan paparan asap knalpot yang pekat, deretan kendaraan mengular panjang hingga meluber ke bahu jalan di kawasan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kota Samarinda.
Kemacetan lalu lintas tak terhindarkan akibat himpitan antrean panjang sepeda motor dan mobil yang tengah berburu bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Di tengah antrean kendaraan yang merayap perlahan mendekati tangki penyimpanan berkapasitas ribuan kiloliter, tampak sejumlah pengemudi ojek daring (ojol) memilih mematikan mesin kendaraan mereka.
Raut wajah lelah terlihat jelas dari balik helmet dan jaket hijau yang mereka kenakan saat menunggu giliran pengisian bahan bakar.
Bagi para pekerja sektor transportasi berbasis aplikasi ini, tertahan selama satu hingga dua jam di area SPBU setiap hari bukan sekadar menguji kesabaran, melainkan mengancam keberlangsungan pendapatan harian.
Hilangnya waktu produktif akibat mengantre BBM secara langsung memangkas potensi penghasilan yang seharusnya bisa dibukukan.
Seorang pengemudi ojol, Hendra (36), mengungkapkan bahwa situasi ini membuatnya kehilangan sedikitnya tiga pesanan dari pelanggan setiap kali terjebak dalam barisan antrean.
Padahal, periode sibuk seperti jam berangkat dan pulang kantor serta jam makan siang merupakan masa paling potensial bagi para pengemudi untuk mengumpulkan poin reward dan meraup rupiah.
Sayangnya, indikator bensin yang sudah berada di posisi kritis memaksa mereka untuk menepi ke SPBU guna mendapatkan Pertalite bersubsidi seharga Rp10.000 per liter, meski harus mengorbankan waktu berharga.
Hendra menuturkan bahwa durasi dua jam yang terbuang di jalan sangat krusial untuk mengejar capaian target insentif harian mereka.
Sementara itu, beralih ke pengecer jalanan atau kios pengisian BBM mini dianggap bukan solusi realistis lantaran harganya berkisar antara Rp13.000 hingga Rp15.000 per botol.
Selisih harga di tingkat eceran tersebut dinilai sangat memberatkan pengemudi yang mengandalkan pendapatan bersih dari komisi aplikasi harian.
Hendra menegaskan bahwa tingginya harga BBM eceran dapat menghabiskan seluruh marjin keuntungan dari hasil bekerja seharian.
Apabila dipaksakan membeli eceran, pembengkakan modal operasional harian tersebut bakal langsung mengikis sisa pendapatan yang bisa dibawa pulang untuk keluarga.
Pada akhirnya, pengemudi sektor informal ini dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama merugikan roda perekonomian keluarga mereka.
“Pilihan kami cuma dua. Habis waktu di antrean atau tekor beli eceran,” ungkap Hendra pasrah saat membeberkan dilema yang dihadapinya.
Tekanan fisik pun kian bertambah karena dorongan rasa lelah menuntun kendaraan di bawah terik matahari dan paparan gas buang SPBU, di mana kondisi terpuruk ini bertolak belakang dengan status Kalimantan Timur sebagai daerah penghasil minyak bumi utama yang menyumbang produksi 60.000 hingga 75.000 barel per hari bagi negara. (Yanur)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id









