Ulasankaltim.id, Samarinda –Aparat kepolisian terus memperluas ruang perjumpaan langsung dengan warga guna memastikan stabilitas keamanan lingkungan tetap terjaga dari tingkat akar rumput. Komitmen tersebut tecermin saat jajaran Kepolisian Resor Kota (Polresta) Samarinda menyambangi warga yang tengah menunaikan ibadah akhir pekan di kawasan Loa Janan Ilir.
Langkah jemput bola ini diwujudkan melalui perhelatan program Minggu Kasih yang dipimpin langsung oleh pimpinan korps Bhayangkara Kota Tepian, Kombes Pol Hendri Umar, S.I.K., M.H., pada Minggu (18/10/2026). Kehadiran perwira menengah kepolisian tersebut menyasar Gereja Oikumene yang berlokasi di ruas Jalan Cipto Mangunkusumo, Kelurahan Sengkotek.
Momen tatap muka yang berlangsung khidmat itu dimanfaatkan secara optimal untuk berdialog dua arah bersama para jemaat gereja setempat sesaat setelah prosesi kebaktian usai. Pertemuan santai namun substantif ini menjadi wadah serap aspirasi sekaligus sarana pertukaran informasi seputar dinamika keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Dalam pemaparannya di hadapan jemaat, Kapolresta Samarinda Kombes Pol Hendri Umar menekankan betapa krusialnya kepekaan kolektif terhadap potensi tindak pidana yang dapat mengintai sewaktu-waktu di pemukiman warga. Partisipasi warga dinilai menjadi fondasi utama dalam meminimalkan celah terjadinya kejahatan jalanan maupun tindak pencurian di wilayah hunian.
Hendri mengimbau masyarakat untuk tidak lengah dan senantiasa menumbuhkan rasa kepedulian terhadap lingkungan tempat tinggal masing-masing. Sikap proaktif warga dalam mengenali gerak-gerik mencurigakan diyakini mampu memutus niat serta kesempatan para pelaku kriminal sebelum aksi kejahatan terjadi.
Selain menyoroti ancaman kejahatan konvensional, pimpinan Polresta Samarinda tersebut menaruh atensi serius terhadap peredaran gelap narkotika yang kian mengancam generasi penerus bangsa. Jemaat, khususnya kalangan orang tua, diminta membentengi keluarga secara kokoh dari jerat barang haram yang kerap masuk melalui jejaring pergaulan anak.
Pendidikan nilai moral, kehangatan komunikasi di dalam rumah, serta pengawasan pergaulan harian disebutnya sebagai filter terdepan untuk menghindarkan remaja dari perilaku menyimpang. Ia menilai bahwa kenakalan remaja sering kali bermula dari minimnya perhatian serta ketidakmampuan generasi muda memilah lingkaran pertemanan yang sehat.
Oleh karena itu, peran serta tokoh agama dan institusi keagamaan dipandang memiliki posisi strategis dalam membina mentalitas pemuda agar tidak terjerumus pada aksi tawuran, balap liar, maupun zat adiktif. Sinergi antara otoritas gereja dan aparat penegak hukum menjadi instrumen penting guna menyelamatkan masa depan generasi muda di kawasan Sengkotek.
Sebagai langkah konkret percepatan respons terhadap laporan kedaruratan, Hendri turut menyosialisasikan kanal pengaduan resmi milik kepolisian. Jajaran Polresta Samarinda mengingatkan jemaat untuk memanfaatkan saluran siaga Call Center Polri 110 jika mendapati insiden darurat atau indikasi gangguan keamanan.
Layanan bebas pulsa tersebut dapat diakses sepanjang waktu guna memangkas birokrasi pelaporan saat masyarakat membutuhkan kehadiran petugas secara cepat di lapangan. Kecepatan informasi dari masyarakat dinilai sangat menentukan keberhasilan polisi dalam menangani perkara serta mencegah eskalasi konflik di tengah warga.
Kunjungan dinas yang dibalut kehangatan silaturahmi ini sekaligus menegaskan konsistensi jajaran kepolisian dalam mengawal pluralisme serta merawat kerukunan antarumat beragama di Kota Samarinda. Hendri menegaskan bahwa kehadiran personel berseragam bertujuan memberikan garansi rasa aman bagi seluruh pemeluk agama agar dapat menjalankan ibadah secara tenang.
Perlindungan terhadap kebebasan beribadah merupakan mandat konstitusi yang wajib dijaga tanpa memandang latar belakang primordial, suku, maupun golongan keagamaan tertentu. Sikap nondiskriminatif kepolisian ditunjukkan lewat kesiapan jajaran Polresta Samarinda dalam memayungi setiap elemen masyarakat secara setara dan profesional.
Pendekatan humanis yang ditunjukkan institusi kepolisian ini disambut hangat oleh perwakilan pengurus dan jemaat Gereja Oikumene Sengkotek yang mengikuti jalannya diskusi. Dialog terbuka ini dinilai menjadi jembatan komunikasi yang efektif untuk mendekatkan sosok polisi dengan masyarakat luas di luar ranah penegakan hukum formal.
Kegiatan Minggu Kasih sendiri kini menjadi instrumen penting kepolisian modern untuk menjaring masukan secara berkala mengenai kendala-kendala sosial yang dihadapi warga di tingkat kelurahan. Lewat ruang interaksi nonformal ini, berbagai keluhan warga dapat ditampung secara langsung tanpa melalui sekat-sekat protokoler yang kaku.
Polresta Samarinda memandang bahwa keterbukaan informasi dan pendekatan dialogis jauh lebih efektif dalam meredam potensi kerawanan sosial dibanding sekadar tindakan represif pascakejadian. Terwujudnya kondusivitas kota menuntut kemitraan sejajar di mana warga bertindak sebagai mitra aktif pelindung lingkungannya sendiri.
Pertemuan di Gereja Oikumene ditutup dengan sesi ramah tamah serta foto bersama antara pejabat utama Polresta Samarinda, pengurus gereja, dan unsur jemaat setempat. Suasana guyub yang terbangun memperlihatkan kuatnya relasi kemitraan sipil dan aparat penegak hukum di kawasan penyangga ibu kota Kalimantan Timur tersebut.
Melalui rangkaian agenda sambang berkala seperti ini, Polresta Samarinda berharap modal sosial berupa toleransi dan kesadaran kamtibmas di Samarinda kian kokoh, sehingga roda aktivitas perekonomian maupun peribadatan masyarakat dapat terus berjalan harmonis dan kondusif. (Fzi)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id









