Air Laut Merangsek ke Sungai Mahakam, Perumdam Samarinda Berlakukan Sistem Buka-Tutup Pengolahan Air

oleh -202 Dilihat
Kantor Prumdam Tirta Kencana Samarinda (Foto : Yanur)
banner 468x60

Ulasankaltim.id, Samarinda – Fenomena perembesan air laut ke alur Sungai Mahakam kian meluas dan mulai memengaruhi suplai air baku di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Kencana Kota Samarinda langsung memperketat pengawasan kualitas air secara berkala di seluruh instalasi pengolahan air (IPA) guna memastikan pasokan yang didistribusikan tetap aman bagi konsumen.

Dampak percampuran air asin tersebut kini tidak hanya dirasakan di kawasan hulu dan tengah seperti IPA Cendana, IPA Palaran, dan IPA Pulau Atas, melainkan telah merembet ke titik pengolahan lain. Dari pemantauan terkini, rembesan air payau dilaporkan telah menjangkau unit pengolahan di IPA Selili serta IPA Sungai Kapih.

Kendati area terdampak bertambah, manajemen Perumdam menegaskan bahwa aktivitas pengolahan dan distribusi air bersih kepada pelanggan tidak mengalami penghentian total. Pola operasional harian kini dijalankan secara fleksibel dan situasional, dengan menjadikan fluktuasi kadar klorida sebagai tolok ukur utama dalam memutar turbin pengolahan.

Asisten Manajer Hubungan Masyarakat Perumdam Tirta Kencana Samarinda, Cevi Wahyudi, memaparkan bahwa keselamatan kualitas air menjadi prioritas tertinggi. Pihaknya menetapkan ambang batas toleransi salinitas sebesar 250 parts per million (ppm) sebagai pedoman mutlak untuk menentukan keberlanjutan proses produksi.

“Kemarin wilayah operasional kami yang terpantau ada di Pulau Atas, Palaran, serta IPA Cendana. Hari ini salinitas mulai masuk ke IPA Selili dan Sungai Kapih,” papar Cevi saat memberikan keterangan resmi terkait kondisi perairan Mahakam.

Cevi menerangkan, jika hasil uji laboratorium menunjukkan parameter klorida masih bertengger di bawah batas 250 ppm, mesin pengolahan tetap bekerja memproduksi air bersih. Sebaliknya, begitu salinitas melampaui batas aman, pengolahan di unit yang bersangkutan akan langsung disetop sementara demi mencegah masuknya air berkadar garam tinggi ke jaringan pipa warga.

“Kalau kadar klorida berada di kisaran 250 ppm ke bawah, kami terus berproduksi. Namun kalau melampaui batas itu, operasional dihentikan sementara sambil terus kami lakukan pengecekan rutin,” imbuhnya seraya menegaskan bahwa produksi langsung berjalan kembali begitu angka salinitas mereda.

Sifat penghentian mesin ini murni mengandalkan pergerakan pasang surut air laut yang mendorong air asin masuk ke badan sungai. Oleh sebab itu, tim teknis di lapangan disiagakan untuk menguji sampel air secara intensif, bahkan pengecekan fisik dilakukan secara bergilir setiap satu jam sekali.

Penerapan sistem evaluasi berkala tersebut membuat jam kerja instalasi bersifat dinamis sepanjang hari. Sebagai gambaran teknis, apabila pada pukul 06.00 Wita kadar klorida terdeteksi melonjak naik, pompa hisap air baku akan dimatikan; namun satu jam berikutnya ketika pasang surut merendahkan salinitas, proses filtrasi langsung diaktifkan kembali.

Cevi menggarisbawahi bahwa skema adaptif ini tidak mengurangi volume kapasitas debit yang dapat diproduksi instalasi secara keseluruhan, melainkan hanya menggeser dan menyesuaikan jendela waktu operasional pompa pengolahan air.

Jeda produksi akibat naiknya kadar garam ini bervariasi dari hitungan menit hingga beberapa jam, tergantung durasi pasang air laut. Di wilayah sekitar, fenomena alam ini juga telah memaksa instalasi di luar jaringan Perumdam Tirta Kencana, seperti IPA Anggana, menghentikan sementara operasional mereka.

Guna mengantisipasi potensi keterlambatan distribusi di wilayah terdampak parah, Perumdam Tirta Kencana telah menyusun langkah mitigasi darurat bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda.

Staf Hubungan Masyarakat Perumdam Tirta Kencana Samarinda, Taufik, menjelaskan bahwa sejumlah titik distribusi logistik air disiapkan secara terintegrasi. Fasilitas penampungan tersebut mencakup terminal air di IPA terdekat, posko penampungan umum di kantor kelurahan, hingga optimalisasi sumur bor mandiri milik warga di kawasan terdampak.

“Warga dapat mengakses pasokan di terminal penampungan berdasarkan verifikasi data dari BPBD. Rekomendasi data dari BPBD tersebut yang menjadi acuan kami untuk mendistribusikan tangki air secara tepat sasaran,” urai Taufik mengenai mekanisme penyaluran darurat.

Melalui skema terpadu ini, pendataan kebutuhan pasokan warga dipusatkan di bawah koordinasi BPBD sehingga armada truk tangki Perumdam dapat bergerak menyasar titik-titik krusial yang mengalami jeda pengaliran cukup panjang.

Taufik pun mengimbau masyarakat luas di Kota Samarinda agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu kelangkaan air secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa operasional Perumdam sama sekali tidak mengalami kelumpuhan total selama 24 jam penuh.

“Kami menyampaikan kepada warga Kota Samarinda bahwa indikasi intrusi air laut memang sedang terjadi, namun Perumdam tidak menghentikan produksi selama 24 jam nonstop. Warga diimbau untuk tidak panik, mulai menampung cadangan air bersih secukupnya, serta lebih bijak dalam mengatur penggunaan air harian,” tutup Taufik. (Yanur)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *