Ulasankaltim.id, Samarinda – Langit Samarinda tampak muram, seolah ikut bersedih menyaksikan luka yang ditorehkan tambang ilegal di jantung kawasan pendidikan. Kebun Raya Universitas Mulawarman (KRUS) di Lempake, yang seharusnya menjadi laboratorium hijau bagi generasi masa depan, kini porak poranda, tercabik alat-alat berat tambang tanpa izin.
Senin, 7 April 2025, suara langkah kaki menggema di jalan setapak hutan. Seorang Senator dari Kalimantan Timur, Dr. Yulianus Henock Sumual, SH, M.Si, menempuh perjalanan sejauh 3,5 kilometer dengan berjalan kaki demi menyaksikan sendiri kerusakan yang viral di media sosial sehari sebelumnya.
Bukan hanya melihat, Yulianus Henock menyusuri lokasi yang sebelumnya penuh rimbun pepohonan, namun kini menyisakan tanah berlubang, tanah merah menganga yang seharusnya menjadi tempat belajar bagi mahasiswa kehutanan.
Di tengah reruntuhan batang pohon dan aroma tanah yang tergali, Yulianus Henock bertemu dengan sekelompok mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. Mereka berjaga, menjaga sisa-sisa harapan dari lahan yang tersisa.
Sosok-sosok muda itu menjadi saksi bisu dari tindakan keji tambang ilegal. Mereka adalah garda terakhir yang berusaha mempertahankan fungsi kawasan konservasi dari tangan-tangan perusak lingkungan.
Yulianus Henock tampak geram. Dengan suara lantang ia menyuarakan kemarahannya, “Ini sudah keterlaluan. Mereka tahu ini kawasan pendidikan, tapi tetap mengeruknya tanpa ampun.” Ucapnya.
Lebih dari tiga hektare lahan yang dirancang sebagai kawasan pendidikan diklat kehutanan kini telah ditebang habis. Tanaman-tanaman muda, hasil kerja keras mahasiswa dan dosen, tak bersisa.
Yang tersisa hanyalah lubang tambang dan sunyi. Tak ada lagi alat berat yang dulu beroperasi di sana, hilang entah ke mana setelah rekaman aktivitas tambang itu viral pada Minggu, 6 April 2025.
Yulianus Henock mencurigai pelaku tambang sudah sangat paham situasi. Mereka menunggu saat lokasi sepi, lalu datang menyergap pagi hingga malam, membawa mesin-mesin penghisap kekayaan bumi.
“Penambangan di kawasan konservasi pendidikan bukan hanya pelanggaran hukum, ini pengkhianatan terhadap masa depan,” tegas Yulianus Henock.
Ia mendesak aparat penegak hukum tidak hanya meninjau lokasi, tetapi juga segera mengusut dan menangkap pihak-pihak yang terlibat dalam aktivitas ilegal ini.
Yulianus Henock juga meminta perhatian serius dari Dinas ESDM Kaltim dan Inspektur Tambang. Baginya, penyelidikan harus dilakukan secara menyeluruh, bukan sekadar formalitas.
“Sebagai Senator DPD RI yang membidangi kehutanan dan pertambangan, saya sangat mengutuk keras tindakan seperti ini. Ini merusak tidak hanya hutan, tapi juga masa depan anak bangsa,” ujarnya dengan nada getir.
Kerusakan hutan ini, menurut Yulianus Henock, akan membawa dampak jangka panjang bagi Kota Samarinda. Salah satunya adalah meningkatnya risiko banjir karena hilangnya kawasan resapan air.
Di akhir kunjungannya, Yulianus Henock berjanji akan membawa kasus ini ke tingkat nasional. Ia menyatakan bahwa perjuangan menjaga hutan pendidikan bukan hanya tugas kampus atau mahasiswa, tapi juga amanat konstitusi.
Sementara itu, mahasiswa kehutanan tetap berjaga di lokasi. Dengan harapan tipis dan semangat membara, mereka menunggu keadilan ditegakkan. (Fer)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id









