Ulasankaltim.id, Samarinda – Munculnya longsoran di lereng sisi Jalan Sultan Alimuddin kembali menyoroti progres pembangunan Terowongan Samarinda yang hingga kini belum difungsikan. Peristiwa tersebut menjadi perhatian publik setelah foto dan video kondisi lereng beredar luas di media sosial dalam beberapa hari terakhir.
Terowongan yang digadang-gadang menjadi solusi untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di kawasan Jalan Sultan Alimuddin itu telah dibangun sejak 2022. Dengan panjang sekitar 400 meter, proyek strategis tersebut diharapkan mampu memperlancar mobilitas masyarakat dan memperkuat konektivitas antarwilayah di Kota Samarinda.
Namun, memasuki tahun 2026, terowongan tersebut masih belum dapat digunakan. Di tengah proses penyelesaian proyek, persoalan longsoran di area sekitar lokasi kembali menjadi sorotan warga yang mempertanyakan perkembangan pembangunan.
Menanggapi kondisi tersebut, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Terowongan Samarinda, Rezky Samudra Aprilyan, menjelaskan bahwa material tanah yang terlihat runtuh bukan berasal dari longsor baru. Menurutnya, kondisi itu merupakan bagian dari longsoran lama yang sebelumnya telah terjadi di lokasi yang sama.
Rezky mengatakan, runtuhan yang tampak saat ini diduga merupakan sisa material longsoran terdahulu yang kembali turun dari permukaan lereng. Karena itu, pihaknya belum menemukan indikasi adanya pergerakan tanah baru yang mengancam area proyek.
Ia menegaskan bahwa titik runtuhan masih berada pada lokasi yang sama dengan kejadian sebelumnya. Hingga saat ini, pemantauan di lapangan terus dilakukan untuk memastikan kondisi lereng tetap terkendali dan tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Menurut Rezky, salah satu faktor yang memengaruhi munculnya longsoran di kawasan tersebut berkaitan dengan kondisi lahan pada tahap awal pembangunan. Saat proyek mulai dikerjakan, sebagian area di sekitar lereng yang mengalami longsor masih berada di luar area pembebasan lahan atau right of way (ROW).
Seiring berjalannya waktu, proses pembebasan lahan di kawasan tersebut telah selesai dilakukan. Dengan demikian, ruang yang tersedia untuk melakukan penanganan lereng kini menjadi lebih luas dibandingkan sebelumnya.
Pemerintah pun telah menyiapkan desain penanganan untuk mengatasi potensi longsoran di lokasi tersebut. Salah satu metode yang direncanakan adalah melakukan pemapasan atau pemotongan pada bagian atas lereng guna menciptakan kemiringan yang lebih landai dan stabil.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko jatuhnya material tanah dari bagian atas lereng, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi yang dapat memicu pergerakan tanah di permukaan.
Meski demikian, pekerjaan perbaikan lereng belum dapat segera dilaksanakan. Pihak proyek masih mempertimbangkan ketersediaan anggaran sebelum menentukan jadwal pelaksanaan penanganan secara menyeluruh.
Rezky menyebutkan bahwa pekerjaan tersebut kemungkinan baru dapat direalisasikan pada tahun depan. Kendati demikian, kondisi yang ada saat ini disebut masih berada dalam batas yang dapat dikendalikan melalui pemantauan dan penanganan bertahap.
Di sisi lain, pemerintah memastikan longsoran yang terjadi tidak memberikan dampak signifikan terhadap struktur utama terowongan. Sebelumnya, penguatan konstruksi telah dilakukan pada bagian bawah lereng dan area sekitar mulut terowongan sebagai langkah mitigasi terhadap potensi gangguan geoteknik.
Sementara itu, fokus penyelesaian proyek saat ini masih tertuju pada proses perizinan operasional. Apabila seluruh persyaratan dapat dipenuhi sesuai ketentuan, Terowongan Samarinda berpeluang dibuka untuk umum lebih dahulu, meskipun pekerjaan penataan lereng di bagian atas masih berlangsung secara paralel. (Fzi)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id









