Ulasankaltim.id, Samarinda – Suasana tenang di tepian Sungai Mahakam mendadak berubah menjadi kepanikan ketika seorang bocah dilaporkan hilang terseret arus deras. Peristiwa itu mengguncang warga di kawasan Jalan Cipto Mangunkusumo, Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Loa Janan Ilir, pada Senin (26/1/26) siang.
Seorang anak laki-laki bernama Azzam Arahan, berusia 7 tahun, dilaporkan tenggelam saat bermain di sekitar tepi sungai. Korban diduga tidak mampu melawan kuatnya arus hingga akhirnya hanyut ke arah hilir.
Insiden tersebut terjadi sekitar pukul 11.58 WITA. Saat kejadian, Azzam berada di sekitar aliran Sungai Mahakam tanpa pendampingan orang dewasa.
Peristiwa itu pertama kali diketahui oleh Sarinem, warga setempat yang sedang beraktivitas di belakang rumahnya. Ia melihat korban berada di air sebelum akhirnya menunjukkan tanda-tanda meminta pertolongan.
Saksi mengira korban hanya berenang seperti biasa. Namun, gerakan tangan korban yang melambai-lambai membuatnya menyadari bahwa anak tersebut dalam kondisi berbahaya.
Sarinem kemudian berteriak meminta bantuan kepada warga sekitar. Upaya pertolongan spontan dilakukan, tetapi derasnya arus sungai dengan cepat menyeret tubuh korban menjauh dari lokasi awal.
Mendapatkan laporan tersebut, Basarnas bersama tim SAR gabungan segera dikerahkan ke lokasi kejadian. Operasi pencarian dimulai pada hari yang sama untuk mempercepat upaya penyelamatan.
Koordinator Pos SAR Samarinda, Mardi Sianturi, menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima laporan kejadian yang membahayakan keselamatan manusia dan langsung mengerahkan personel ke lokasi.
Tim yang terlibat dalam operasi pencarian terdiri dari enam personel Basarnas, serta didukung unsur TNI, Polri, relawan, dan masyarakat setempat. Pencarian dilakukan dengan fokus pada area sekitar lokasi terakhir korban terlihat.
Pada hari pertama operasi, metode pencarian difokuskan pada penyelaman di sekitar titik kejadian. Tim juga menyiapkan alternatif metode pencarian apabila kondisi arus tidak memungkinkan untuk dilakukan penyelaman.
Jika penyelaman tidak membuahkan hasil, tim akan beralih ke metode penyisiran menggunakan alat tradisional yang dikenal oleh masyarakat setempat sebagai “Fisher”, yang merupakan bagian dari kearifan lokal dalam pencarian di perairan.
Sesuai prosedur standar Search and Rescue, operasi pencarian akan berlangsung selama tujuh hari apabila korban belum ditemukan. Area pencarian juga akan diperluas ke arah hilir untuk mengantisipasi kemungkinan korban terbawa arus lebih jauh.
Hingga sore hari, keluarga korban dan warga masih bertahan di sekitar lokasi, menunggu perkembangan dari tim pencarian. Tim SAR terus melanjutkan upaya dengan harapan korban dapat segera ditemukan. (Fdy)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id









