Di Balik Gedung Baru Pasar Pagi Samarinda, Pedagang Cemas Kehilangan Pembeli

oleh -278 Dilihat
Gedung Pasar Pagi Samarinda (Foto : Fdy)
banner 468x60

Ulasankaltim.id, Samarinda – Rencana pengoperasian gedung baru Pasar Pagi Samarinda mulai memunculkan kegelisahan di kalangan pedagang kecil. Di balik bangunan tujuh lantai yang digadang-gadang lebih modern itu, tersimpan kekhawatiran soal penataan kios yang dinilai berpotensi menentukan keberlangsungan usaha para pedagang.

Isu utama yang mengemuka bukan berkaitan dengan besaran retribusi maupun ukuran lapak, melainkan pola penempatan pedagang di setiap lantai. Sejumlah pedagang menilai zonasi tersebut dapat berdampak langsung pada tingkat kunjungan pembeli.

Keresahan paling kuat dirasakan pedagang konveksi dan penjual pakaian eceran. Mereka khawatir akan ditempatkan di lantai atas gedung, posisi yang dinilai kurang strategis untuk menarik pembeli pasar tradisional.

Para pedagang menilai penataan berdasarkan jenis komoditas semata berisiko mengabaikan pola pergerakan pengunjung. Padahal, arus lalu lintas pembeli menjadi faktor utama yang menentukan perputaran uang di pasar.

Salah satu pedagang konveksi, Jufriansyah, menyebut pengalaman relokasi di pasar-pasar sebelumnya seharusnya menjadi bahan evaluasi. Ia menilai penempatan kios yang tidak sesuai dengan jalur pengunjung kerap berujung pada penurunan omzet.

Menurutnya, pedagang eceran sangat bergantung pada pembeli spontan yang masuk dari pintu utama pasar. Jika akses tersebut terputus akibat penempatan di lantai tinggi, peluang transaksi pun ikut menurun.

“Dalam praktiknya, arus manusia di pasar adalah arus uang. Ketika pembeli enggan naik ke lantai tertentu, perputaran ekonomi pedagang otomatis terhambat,” ujar Jufriansyah, Jumat (9/1/2025).

Ia mengungkapkan bahwa dalam rancangan awal, pedagang eceran sempat diproyeksikan menempati lantai tiga hingga enam. Sementara lantai enam dan tujuh direncanakan sebagai area grosir, meski keputusan final masih menunggu kebijakan Pemerintah Kota Samarinda.

Berdasarkan pembagian resmi yang telah disosialisasikan, lantai satu akan diisi pedagang basah seperti ikan, daging, dan sayuran. Lantai dua diperuntukkan bagi komoditas pertanian, sementara lantai tiga dan empat diisi pedagang emas, perhiasan, dan aksesoris.

Adapun lantai lima hingga tujuh direncanakan menjadi kawasan grosir pakaian dan perlengkapan rumah tangga. Namun susunan tersebut dinilai belum sepenuhnya mempertimbangkan minat dan daya jelajah pengunjung di ruang vertikal.

Jufriansyah juga menyinggung pengalaman penataan kios di Pasar Segiri yang sempat menuai keluhan. Banyak pedagang, kata dia, kehilangan pelanggan karena lokasi berdagang tidak lagi berada di jalur utama lalu lintas pembeli.

Para pedagang berharap Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Perdagangan dan UPTD Pasar Pagi melakukan kajian yang lebih mendalam sebelum menetapkan zonasi akhir. Mereka menilai penataan pasar seharusnya berbasis perilaku konsumen agar bangunan baru tidak justru melemahkan ekonomi pedagang kecil. (Fdy)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *