Dewan Selang Tanpa Politik Uang, Abdul Giaz Rangkul Pemuda Lewat Sepak Bola

oleh -401 Dilihat
Anggota Komisi II DPRD Kaltim, Abdul Giaz gelar penguatan Demokrasi Daerah di Lapangan Mini Soccer Jalan Tani Subur, Gang Usaha, Kelurahan Tani Aman, Loa Janan Ilir, Samarinda Seberang. (Foto : Ist)
banner 468x60

Ulasankaltim.id, Samarinda – Sebagai wujud nyata komitmen dalam memperjuangkan hak-hak demokrasi masyarakat, Anggota DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) Komisi II, Abdul Giaz, menggelar kegiatan Penguatan Demokrasi Daerah (PDD) bertema “Hak Warga Negara dalam Pemilu dan Pilkada”. Kegiatan ini dikemas dengan cara unik, berbeda dari acara serupa yang biasanya berlangsung dalam suasana formal.

Alih-alih menggelar diskusi di ruangan tertutup, Abdul Giaz memilih olahraga sepak bola sebagai medium untuk menyampaikan pesan demokrasi. Acara yang berlangsung pada Sabtu malam (15/02/2025) ini digelar di Lapangan Mini Soccer Hana, Jalan Tani Subur, Gang Usaha, Kelurahan Tani Aman, Loa Janan Ilir, Samarinda Seberang.

Puluhan warga, khususnya pemuda pecinta sepak bola, turut serta dalam kegiatan ini. Mereka tidak hanya bermain bola, tetapi juga berdiskusi santai tentang isu demokrasi dan hak politik sebagai warga negara. Dengan konsep yang lebih santai, acara ini menarik perhatian masyarakat untuk ikut berpartisipasi aktif.

Abdul Giaz menjelaskan bahwa pemilihan konsep olahraga ini bukan tanpa alasan. Menurutnya, sepak bola adalah cara efektif untuk mengumpulkan masyarakat tanpa membuat mereka merasa bosan. Dengan suasana yang lebih cair, komunikasi menjadi lebih mudah terjalin.

“Biasanya kalau ada diskusi politik, orang harus duduk lama, kepanasan, dan mendengarkan sambutan panjang. Itu bisa membosankan. Tapi kalau sambil bermain bola, suasana lebih santai, silaturahmi tetap terjaga, dan yang pasti kita semua sehat,” ujarnya.

Sebagai anggota dewan yang baru dilantik lima hari lalu, Abdul Giaz ingin menghadirkan pendekatan baru dalam menjalin komunikasi dengan masyarakat. Ia menegaskan bahwa dirinya bukan politisi yang mengandalkan politik uang untuk meraih suara.

“Saya ini Dewan Selang. Kenapa selang? Karena saya nekat, tanpa pakai uang. Alhamdulillah, saya bisa terpilih dengan suara murni tanpa politik transaksional. Ini membuktikan bahwa masyarakat masih bisa memilih dengan hati dan bukan karena uang,” tegasnya.

Untuk menyukseskan acara ini, Abdul Giaz menggandeng Ardian, Ketua Putra Loa Janan, sebuah komunitas sepak bola lokal. Dengan dukungan dari komunitas ini, mereka berhasil mengumpulkan puluhan peserta untuk ikut bermain bola dan berdiskusi santai mengenai isu demokrasi.

“Saya bilang ke Ardian, ayo kita kumpulkan pemain. Bisa 50, 60 orang, atau lebih. Bismillah, kita jalankan,” katanya.

Menurut Abdul Giaz, keterlibatan komunitas sepak bola memiliki makna tersendiri baginya. Saat Pemilu lalu, ia memperoleh sekitar 6.551 suara, yang menurutnya banyak berasal dari komunitas sepak bola di Samarinda. Hal ini menjadi bukti bahwa politik bersih tanpa transaksional masih bisa diterapkan.

Lebih lanjut, Abdul Giaz berharap bahwa kegiatan ini bisa menjadi inspirasi bagi cara baru dalam memperkuat demokrasi. Ia ingin menciptakan ruang diskusi politik yang lebih menarik, tidak kaku, dan lebih dekat dengan hobi serta minat masyarakat.

“Demokrasi itu harus menyenangkan. Kalau orang diajak ngobrol politik dengan cara yang membosankan, mereka tidak akan tertarik. Tapi kalau pakai cara yang mereka suka, seperti sepak bola ini, mereka akan lebih terbuka. Dan ini juga membuat pikiran kita tetap positif,” jelasnya.

Di akhir acara, Abdul Giaz mengajak generasi muda untuk lebih aktif dalam Pemilu dan Pilkada yang akan datang. Menurutnya, suara anak muda memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah pembangunan daerah. “Jangan biarkan orang lain menentukan masa depan kita. Hak suara kita sangat penting. Pilihlah pemimpin yang benar-benar peduli dengan masyarakat, bukan yang hanya datang saat kampanye,” pesannya.

Selain membahas isu demokrasi, acara ini juga menjadi ajang silaturahmi antara Abdul Giaz dengan masyarakat. Para peserta yang hadir tidak hanya mendapatkan pemahaman politik, tetapi juga menikmati permainan sepak bola yang menyenangkan. “Ini bukan sekadar kumpul-kumpul. Kita di sini untuk membangun demokrasi yang lebih baik. Dengan cara yang lebih sehat, lebih menyenangkan, dan lebih bermakna,” pungkasnya. (fer)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *