Ulasankaltim.id, Samarinda — Warga di kawasan Masjid Raya Samarinda digemparkan oleh penemuan seorang pria setengah baya yang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia pada Selasa pagi. Pria yang diidentifikasi bernama Oscar dan diperkirakan berumur sekitar 50 tahun tersebut ditemukan membeku di salah satu sudut rumah ibadah terbesar di ibu kota Kalimantan Timur itu.
Peristiwa tragis ini mulai terkuak secara luas sekitar pukul 08.00 WITA, ketika pengurus masjid setempat mendapati laporan mengenai keberadaan seorang pria yang tergeletak tidak bergerak. Pihak pengurus yang curiga dengan kondisi korban langsung meneruskan laporan tersebut kepada aparat kepolisian guna memastikan keadaan yang bersangkutan.
Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, korban ternyata sempat terlihat berkeliaran di sekitar area masjid selama kurun waktu seminggu terakhir. Keberadaan pria paruh baya ini pun sempat memicu perhatian beberapa warga serta jamaah yang kerap beraktivitas di seputar kawasan tersebut.
Salah seorang saksi mata yang berada di lokasi kejadian, Muhammad Said, membeberkan bahwa dirinya sempat berpapasan langsung dengan korban sesaat sebelum pria tersebut ditemukan tak bernyawa. Kala itu, Said yang baru saja tiba di Kota Samarinda sedang duduk beristirahat di pelataran masjid.
Said menceritakan, sembari memegang telepon seluler, ia mengamati gerak-gerik korban yang berjalan mendekat ke arahnya. Pria misterius itu berjalan merangkak dengan gestur tubuh yang melemah sembari memanggil serta memberikan sinyal isyarat minta tolong.
Sayangnya, fokus Said yang terpecah akibat kesibukannya menatap layar gawai membuat isyarat darurat dari korban tidak ditanggapi secara serius. Said pun tidak berupaya memberikan pertolongan langsung maupun mendekati pria tersebut.
“Dia lewat di depan saya, merangka-rangka, dia panggil saya. Saya main HP, jadi saya tidak peduli dengan dia,” ungkap Said saat memberikan kesaksiannya mengenai momen-momen terakhir sebelum korban menghembuskan napas terakhir.
Tidak berjangka lama dari interaksi singkat tersebut, Said memutuskan untuk meninggalkan pelataran masjid sejenak guna mencari makan. Namun, pemandangan dramatis langsung menyambutnya begitu ia kembali ke lokasi semula beberapa saat kemudian.
Area yang tadinya tenang mendadak dipadati oleh kerumunan warga dan pengurus masjid yang panik. Saat itulah Said menyadari bahwa sosok pria yang sempat meminta bantuan kepadanya beberapa menit sebelumnya telah dinyatakan meninggal dunia.
Mengenai identitas maupun asal-usul korban, Said mengaku sama sekali tidak menyimpannya. Latar belakang dirinya yang merupakan pendatang baru di Samarinda membuatnya tidak mengenali penghuni lokal maupun latar belakang sosial korban.
“Saya tidak kenal dia orang mana, soalnya saya baru sampai di sini,” tutur Said menambahkan keterangannya kepada awak media yang berada di tempat kejadian perkara.
Merelai kejadian tersebut, Bhabinkamtibmas Kelurahan Pasar Pagi, Aiptu Kasno, membenarkan adanya laporan masuk terkait insiden ini sejak Selasa pagi. Pihaknya segera menerjunkan personel ke lokasi guna melakukan sterilisasi awal dan pemeriksaan olah TKP.
“Dari info awal dari pengurus, sekitar jam 8 saya mendapat info bahwa ada seorang laki-laki yang tergeletak di Masjid Raya. Kemudian kita datang untuk mengecek dan ternyata yang bersangkutan sudah meninggal,” terang Aiptu Kasno saat menjelaskan kronologi penanganan awal petugas.
Kasno menjelaskan, temuan riil di lapangan menunjukkan korban menghembuskan napas terakhir dalam kondisi terduduk di tangga area luar masjid. Posisi tepatnya berada di sudut pelataran dekat bangunan tower Masjid Raya Samarinda.
“Untuk posisi awal itu dia dalam posisi duduk di tangga, di sekitar pojokan masjid dekat tower masjid,” kata Kasno memaparkan letak penemuan jasad korban secara rinci.
Dalam pemeriksaan barang bawaan di sekitar jasad korban, tim kepolisian menemukan barisan obat-obatan medis yang terindikasi kuat sebagai terapi untuk mengobati penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV). Namun, polisi belum bisa memastikan apakah penyakit tersebut merupakan penyebab tunggal kematian Oscar sebelum dilakukannya autopsi medis resmi.
“Untuk pengecekan awal tadi, terduga mengalami penyakit HIV. Tapi mungkin karena ditemukan obat-obatan untuk mengobati HIV,” ujar Kasno seraya menyampaikan bahwa jenazah kini telah dievakuasi ke RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda. Pihak kepolisian memberi jeda waktu tiga hari bagi sanak keluarga untuk mengklaim jenazah, sebelum akhirnya penanganan pemakaman diambil alih oleh Kepolisian Resor (Polres) Samarinda. (Fzi)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id









