Ulasankaltim.id, Samarinda – Malam di kawasan Jalan Kakap, Samarinda, berubah riuh ketika suara warga menyaingi dengungan alat berat. Di tengah sorotan lampu proyek, puluhan penduduk setempat berdiri gelisah bukan karena penasaran dengan pembangunan terowongan, melainkan karena rumah mereka mulai retak satu per satu.
Sejak beberapa pekan terakhir, aktivitas proyek di kawasan itu diduga menimbulkan getaran kuat yang merambat hingga ke permukiman warga. Dinding rumah mulai retak, lantai terbelah, dan sebagian kamar mandi rusak parah akibat guncangan berulang dari alat berat yang beroperasi siang dan malam.
“Begitu truk lewat, tembok langsung bergetar. Lama-lama, retaknya makin lebar,” ujar salah satu warga yang rumahnya berada tak jauh dari lokasi proyek. Ia mengaku tak lagi tenang tidur setiap kali mendengar suara mesin berat bekerja.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan warga lainnya. Menurut mereka, kondisi ini bukan hanya merusak bangunan, tetapi juga mengancam keselamatan keluarga. “Kalau dibiarkan, bisa saja rumah kami roboh,” ucap seorang ibu rumah tangga dengan nada cemas.
Rabu malam (15/10), puluhan warga memutuskan mendatangi area proyek untuk menyampaikan keluhan langsung. Mereka menuntut agar pengerjaan menggunakan alat berat dihentikan sementara hingga penyebab getaran bisa dipastikan dan ada solusi bagi rumah yang rusak.
Tuntutan itu disampaikan dengan nada tegas namun tetap tertib. Warga menginginkan adanya tanggung jawab dari pihak pelaksana proyek, termasuk kemungkinan ganti rugi atas kerusakan yang mereka alami.
Pantauan di lokasi menunjukkan suasana sempat memanas. Sejumlah petugas keamanan proyek mencoba menenangkan warga yang terus berdatangan. Beberapa orang tampak berdialog dengan pihak pengawas proyek di bawah penerangan seadanya.
Meski situasi belum sepenuhnya terkendali, aktivitas alat berat di dalam area terowongan masih terdengar. Bunyi mesin dari dalam lokasi proyek sesekali membuat warga yang berdiri di luar pagar bereaksi dengan teriakan keberatan.
Aparat kepolisian yang datang kemudian membentuk barikade untuk menjaga jarak antara warga dan pekerja proyek. Mereka meminta massa untuk tetap tenang sambil menunggu langkah resmi dari pihak terkait.
Hingga larut malam, sebagian warga masih bertahan di lokasi. Mereka menilai kehadiran aparat belum cukup menjawab kekhawatiran utama: siapa yang akan bertanggung jawab atas kerusakan rumah mereka.
Pihak proyek hingga kini belum memberikan penjelasan resmi. Wartawan yang mencoba meminta keterangan belum mendapat tanggapan, sementara pihak kontraktor disebut sedang melakukan evaluasi internal.
Warga berharap pemerintah kota segera turun tangan untuk memfasilitasi dialog antara pihak proyek dan masyarakat terdampak. Mereka menegaskan, pembangunan infrastruktur seharusnya membawa manfaat, bukan meninggalkan kerusakan di lingkungan sekitar. (Fer)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id









