Ulasankaltim.id, Samarinda – Perumda Air Minum (Perumda) Tirta Kencana Kota Samarinda menerapkan skema operasional adaptif guna merespons dinamika konsentrasi klorida di aliran Sungai Mahakam yang masih terus berfluktuasi. Perubahan mutu air baku tersebut menuntut manajemen instalasi pengolahan air (IPA) menyesuaikan ritme produksi secara dinamis mengikuti kondisi di titik tangkapan air (intake).
Direktur Pelayanan Perumdam Tirta Kencana Samarinda, Widyastuti, memastikan stabilitas mutu air pada sejumlah titik pengambilan sampel masih berada dalam batas aman terkendali hingga Rabu (9/9/2026) petang. Tren penurunan konsentrasi garam tersebut sekaligus memungkinkan beberapa unit pengolahan yang sempat dinonaktifkan sementara untuk kembali memproduksi air bersih bagi masyarakat.
Menurut pantauan manajemen, parameter keasinan air di hulu maupun hilir menunjukkan karakteristik yang bervariasi sepanjang hari. Kendati demikian, stabilitas pasokan tetap terjaga karena kondisi perairan menjelang petang dilaporkan tidak mengalami lonjakan signifikan dibandingkan dengan pembacaan instrumen pada pagi hari, salah satunya di wilayah Loa Bakung.
“Beberapa titik itu berbeda-beda. Tapi intinya sampai sore ini (Rabu) masih seperti tadi pagi. Insya Allah IPA Loa Bakung masih aman,” ujar Widyastuti saat membeberkan pemutakhiran data operasional di Samarinda.
Perbaikan kualitas sumber air baku juga berdampak langsung pada pemulihan fasilitas produksi vital lainnya, termasuk IPA Cendana yang sebelumnya terdampak rembesan intrusi. Fasilitas pengolahan tersebut kini telah diaktifkan kembali secara penuh setelah pembacaan analitis klorida menunjukkan angka di bawah ambang batas 250 parts per million (ppm).
Langkah normalisasi yang sama turut diterapkan di instalasi pengolahan Tirta Kencana yang berada di kompleks perkantoran pusat badan usaha milik daerah tersebut. Pengaktifan kembali fasilitas-fasilitas utama ini menjadi indikator positif bagi kelancaran distribusi air bersih pelanggan di kawasan perkotaan.
“Cendana sudah on kembali. Sudah turun. Artinya kadarnya di bawah 250. Tirta Kencana juga Alhamdulillah sudah on,” papar Widyastuti merinci status operasional mesin pengolahan.
Di tengah upaya pemulihan layanan tersebut, sempat beredar data pengujian mutu air mandiri yang dilakukan oleh entitas swasta di sekitar tiang pancang Jembatan Mahakam pada Rabu pukul 10.00 Wita. Uji laboratorium non-pemerintah itu mendeteksi lonjakan tajam kadar klorida hingga menyentuh angka 1.013 ppm, yang menandakan air di zona permukaan tersebut telah berasa payau.
Menanggapi disparitas angka tersebut, manajemen Perumdam menegaskan bahwa hasil uji swasta itu diambil dari titik terbuka di badan sungai utama, bukan berasal dari corong hisap atau intake resmi instalasi pengolahan air. Monitoring internal yang dilakukan secara ketat membuktikan air yang masuk ke saluran pra-sedimentasi tetap memenuhi standar baku mutu air bersih.
“Kalau di IPA-IPA kami yang kita ambil dari intake, Alhamdulillah tadi seperti Loa Bakung masih di bawah 200-an, masih aman,” tutur Widyastuti menepis kekhawatiran terkait kualitas air yang masuk ke jaringan perpipaan warga.
Widyastuti memaparkan, fluktuasi indeks kimiawi air di jalur pelayaran tersibuk di Kalimantan Timur ini sangat dipengaruhi oleh fenomena oseanografi, khususnya ritme pasang surut muka air laut. Ketika gravitasi bulan memicu pasang laut, desakan massa air asin merangsek masuk kian jauh ke palung Sungai Mahakam dan menaikkan parameter klorida secara drastis.
Sebaliknya, ketika massa air sungai mulai menyurut, arus tawar dari wilayah pedalaman mendesak kembali lidah air asin ke arah muara sehingga tingkat salinitas langsung merosot ke zona aman. Menghadapi siklus hidrologi harian ini, operator teknis Perumdam langsung melancarkan strategi kejar tayang untuk memompa dan mengolah air secepat mungkin.
Fase air tawar tersebut dimanfaatkan secara maksimal untuk mengisi tandon-tandon penampungan berukuran raksasa (reservoir) di seluruh sentra transmisi air bersih. Manajemen menyiagakan cadangan air bersih bervolume besar sebagai benteng pasokan apabila sewaktu-waktu intrusi air laut kembali memaksa pompa intake berhenti menyedot air sungai.
“Ketika on begini kita optimalkan pengisian reservoir. Termasuk di Sungai Kapih, Kalhol, dan Pulau Atas. Ketika posisi on, biasanya sampai malam kita penuhi reservoir,” kata Widyastuti menerangkan pola mitigasi operasional lapangan.
Strategi penampungan air cadangan tersebut menjadi kunci pertahanan agar pelanggan tidak terdampak krisis air berkepanjangan ketika gelombang pasang berikutnya tiba. Begitu kadar klorida terdeteksi merangkak naik melebihi parameter kelayakan minum pada keesokan harinya, operasional pompa hisap langsung dimatikan sementara demi mencegah distribusi air berasa payau ke keran rumah tangga.
“Ketika pagi ternyata air pasang lagi, naik, terpaksa kita off. Sehingga nanti warga tetap bisa akses air dari IPA kami yang sudah mengisi reservoir,” sambung Widyastuti menjelaskan mekanisme proteksi mutu layanan tersebut.
Sebagai langkah lanjutan, Perumdam Tirta Kencana terus menyiagakan tim laboratorium untuk menguji kualitas air baku secara berkala di setiap stasiun pompa. Operator kini memusatkan perhatian pada normalisasi IPA Selili yang diharapkan dapat segera menyusul beroperasi optimal begitu rembesan klorida di kawasan hilir tersebut melandai ke titik terendah. (Yanur)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id









