Heboh Isu Air Hujan Beracun Akibat Rekayasa Cuaca, BMKG dan BPBD Samarinda Buka Suara

oleh -202 Dilihat
Flayer yang tersebar (Foto : Ist)
banner 468x60

Ulasankaltim.id, Samarinda –Masyarakat Kalimantan Timur, khususnya Kota Samarinda, diresahkan oleh peredaran materi visual daring yang memuat peringatan agar warga menghindari konsumsi serta penampungan limpahan air hujan. Dalam muatan yang tersebar di berbagai platform digital tersebut, klaim bahaya dikaitkan langsung dengan residu zat beracun dari aktivitas rekayasa atmosfer.

Menanggapi kepanikan publik yang kian meluas, otoritas meteorologi dan penanggulangan bencana setempat langsung mengambil langkah tegas. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda menyatakan bahwa pesan berantai tersebut sepenuhnya tidak berdasar serta bukan produk komunikasi dari instansi berwenang mana pun.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II APT Pranoto BMKG Samarinda, Riza Arian Noor, mengimbau publik agar mengedepankan sikap kritis ketika menerima kiriman dokumen elektronik. Evaluasi terhadap validitas pengirim mutlak dilakukan sebelum materi tersebut diteruskan ke ruang percakapan yang lebih luas.

Ketiadaan identitas penerbit menjadi indikasi awal yang sangat mencolok bahwa selebaran tersebut tergolong konten gelap. Menurut evaluasi BMKG, materi grafis yang beredar tidak memuat atribut visual instansi, rujukan dokumen resmi, maupun pihak yang mengambil tanggung jawab atas pernyataan di dalamnya.

“Infografis tanpa keterangan siapa yang mengeluarkan sama sekali,” ujar Riza saat dikonfirmasi, Minggu (6/9/2026).

Menepis substansi yang disampaikan dalam konten viral tersebut, Riza menegaskan bahwa tidak ada agenda Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang tengah berjalan di wilayah Kalimantan Timur. Dengan fakta tersebut, korelasi antara kualitas curahan presipitasi dengan intervensi teknologi cuaca otomatis gugur.

Otoritas meteorologi menjamin bahwa anggapan mengenai air hujan yang terkontaminasi dampak penyemaian awan bertolak belakang dengan realitas teknis di lapangan. Bahkan dalam skenario operasi nyata sekalipun, formulasi yang dimanfaatkan bukanlah material beracun melainkan senyawa garam dapur atau Natrium Klorida (NaCl) berbutir halus.

“Tidak ada kegiatan OMC di Kaltim sampai saat ini. Jadi, anggapan bahwa air hujan tercemar akibat penyemaian awan itu tidak benar. Kalau pun dilakukan modifikasi cuaca, bahan semainya berupa garam halus atau Natrium Klorida (NaCl), bukan bahan kimia berbahaya,” tegasnya.

Riza menguraikan aspek teknis di balik pemanfaatan NaCl, yakni murni bertindak sebagai inti kondensasi higroskopis guna merangsang partikel uap air pada gugusan awan potensial agar lekas membesar dan luruh menjadi tetesan hujan. Metodologi tersebut terbukti mapan secara global serta tidak meninggalkan residu toksik bagi ekosistem.

“Kajian ilmiah menunjukkan tidak ada pengaruh signifikan terhadap kesehatan,” katanya, memastikan keselamatan biota dan manusia tetap terjaga selama penerapan teknologi modifikasi cuaca.

Senada dengan BMKG, jajaran penanggulangan bencana tingkat kota turut menelusuri rantai persebaran materi visual tak bertuan tersebut guna mencegah kepanikan berkepanjangan di tengah warga. Penelusuran menyeluruh memastikan bahwa tidak ada satu pun edaran kebencanaan resmi yang melarang pemanfaatan air hujan di Samarinda.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso, menyebutkan bahwa koordinasi lintas sektor telah dirampungkan untuk memverifikasi keabsahan konten yang mengatasnamakan isu keselamatan lingkungan hidup tersebut.

“Sumber infografis tersebut tidak jelas,” ujar Suwarso saat menerangkan ketidaksinkronan materi digital itu dengan basis data resmi kebencanaan daerah.

Suwarso menambahkan bahwa pelaksanaan intervensi atmosfer memerlukan prasyarat meteorologis yang sangat ketat, terutama akumulasi bibit awan konvektif yang memadai sebelum armada penyemai dikerahkan. Parameter teknis ini tidak bisa dipenuhi secara sembarangan di luar pengamatan instrumen terukur.

“Untuk Samarinda sampai saat ini belum ada kegiatan maupun jadwal pelaksanaan OMC. Kondisi atmosfer juga belum menunjukkan adanya pertumbuhan benih awan yang berpotensi untuk dilakukan penyemaian,” kata Suwarso menerangkan nihilnya agenda rekayasa cuaca di wilayahnya.

Ia mengingatkan khalayak luas agar tidak buru-buru menyimpulkan status higienis atau bahaya kimiawi suatu sumber air semata-mata berpijak pada narasi tanpa verifikasi di jejaring media sosial. Standar baku mutu air hanya absah ditentukan lewat parameter uji laboratorium yang kredibel.

“Jangan langsung percaya atau menyebarkan informasi yang sumbernya tidak jelas. Kami mengimbau masyarakat untuk saring sebelum sharing dan memastikan informasi terkait cuaca maupun lingkungan melalui kanal resmi pemerintah,” pungkasnya. (Fzi)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *