Ulasankaltim.id, Samarinda – Ketergantungan struktural terhadap komoditas tambang dan energi tak terbarukan kini memicu Kalimantan Timur untuk kian gencar memetakan poros pertumbuhan ekonomi baru. Kesadaran untuk melepaskan diri dari dominasi sektor ekstraktif tersebut mengemuka tatkala ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berkumpul dalam perhelatan Mahakarya Etam Festival (MEF) 2026 yang dihelat di Atrium BIG Mall Samarinda.
Ajang tahunan gagasan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Kalimantan Timur ini dirancang sebagai instrumen akselerasi bagi sektor-sektor produktif non-tambang. Mengangkat tema “Penguatan Sinergi dan Integrasi Kebijakan untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif, Berdampak, dan Berkelanjutan,” perhelatan ini menjadi wujud nyata harmonisasi kebijakan antara otoritas moneter daerah dan jajaran birokrasi daerah.
Prosesi membatik bersama di atas bentangan kain mori menjadi penanda dimulainya agenda tiga hari tersebut pada Jumat pagi (6/11/2026). Agenda yang mempertemukan Kepala Perwakilan BI Kaltim Jajang Hermawan dan Staf Ahli Bidang II Pemprov Kaltim Siti Farisyah Yana ini sekaligus membuka pameran karya lebih dari 100 entitas UMKM terkurasi dari berbagai penjuru Benua Etam hingga Minggu (8/11/2026).
Menyampaikan amanat Gubernur, Siti Farisyah Yana menguraikan bahwa peta jalan pembangunan Kaltim untuk rentang waktu 2025–2030 menuntut pergeseran paradigma yang mendasar. Daerah ini tidak lagi semata mengejar angka pertumbuhan bruto yang tinggi, melainkan wajib meletakkan prinsip kelestarian lingkungan dan daya dukung ekosistem sebagai fondasi utama kebijakan publik.
Menurut Yana, transisi menuju ekonomi hijau mendesak diwujudkan lewat optimalisasi industri ramah lingkungan serta penataan tata kelola eksploitasi kekayaan alam agar lebih efisien. Dinamika transformasi ini memang menghadirkan tantangan teknis tersendiri, namun justru membuka ruang kolaborasi multisektoral yang luas guna memastikan denyut perekonomian daerah tetap tangguh melintasi pergantian generasi.
Langkah strategis tersebut diwujudkan pemerintah provinsi melalui penyediaan ekosistem pendukung, mulai dari penguatan konektivitas infrastruktur fisik, pengasahan kapabilitas sumber daya manusia lokal, hingga pembukaan keran akses teknologi informasi. Intervensi terencana ini diarahkan agar nilai tambah ekonomi dapat tercipta merata di tingkat tapak, bukan hanya terkonsentrasi pada segelintir korporasi berskala konglomerasi.
Secara berkala, Pemprov Kaltim menyalurkan pendampingan komprehensif yang mencakup pelatihan manajemen usaha, perluasan kanal permodalan, sampai ke penetrasi rantai pasar ritel, termasuk lewat optimalisasi skema program Jospol. Berbagai stimulus terpadu ini ditujukan guna memastikan para wirausahawan domestik tidak termarginalkan di tengah gelombang modernisasi wilayah.
Di samping penguatan internal, sektor UMKM diarahkan untuk melebur langsung ke dalam ekosistem pariwisata yang tengah menggeliat. Rupa-rupa wastra lokal, aneka cenderamata etnik, serta sajian kuliner khas daerah dinilai memiliki daya tawar tinggi bila terhubung secara sistematis dengan jaringan perjalanan wisata, pusat perbelanjaan, dan fasilitas perhotelan.
Pihak otoritas daerah secara terbuka mengajak seluruh manajemen industri perhotelan dan biro perjalanan untuk memprioritaskan pasokan komoditas kreatif lokal di setiap lini operasional mereka. Pendekatan simbiosis ini dipandang ampuh dalam mendistribusikan belanja para pelancong secara langsung ke kantong masyarakat pengrajin tanpa mengesampingkan standar kualitas layanan serta nilai-nilai kearifan budaya setempat.
MEF 2026 lantas difungsikan sebagai wadah pertemuan strategis yang menjembatani para produsen lokal, pelaku industri pelesir, serta generasi muda visioner. Keberadaan pameran produk, diskusi berkala, serta sesi business matching diatur sedemikian rupa agar interaksi yang tercipta tidak sekadar berhenti pada transaksi kasual, melainkan bermuara pada kesepakatan kemitraan dagang berjangka panjang.
Aspek krusial lain yang turut ditekankan adalah akselerasi digitalisasi transaksi keuangan sebagai prasyarat peningkatan daya saing bisnis kontemporer. Kemudahan pembayaran digital dipandang sebagai pemantik utama bagi UMKM untuk mendongkrak kepuasan konsumen sekaligus menertibkan tata kelola pencatatan sirkulasi kas usaha secara transparan.
Guna memastikan penetrasi sistem digital meluas hingga ke pelosok pedagang pasar tradisional dan gerbang destinasi wisata, penguatan kolaborasi dijalankan secara agresif lewat wadah Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD). Forum koordinasi ini menyatukan langkah BI Kaltim, pemerintah kabupaten/kota, serta perbankan nasional dalam memperkokoh ekosistem non-tunai.
Efektivitas edukasi digital tercermin dari lonjakan pemanfaatan sistem Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di wilayah Kaltim yang menunjukkan kurva positif signifikan. Sampai penutupan triwulan II 2026, basis konsumen pengguna QRIS menyentuh 948,3 ribu entitas dengan dukungan lebih dari 910 ribu pedagang terdaftar, meningkat tajam dibandingkan triwulan sebelumnya yang berada di kisaran 906,6 ribu pemakai dan 835 ribu pedagang.
Kendati jangkauan infrastruktur perbankan digital kian merata, Yana mengingatkan bahwa tersedianya kode batang di meja kasir barulah tahapan awal. Tantangan mendasar berikutnya bertumpu pada kesiapan literasi digital pelaku usaha dalam memanfaatkan perangkat teknologi untuk memacu efisiensi produksi, memperluas kanal pemasaran digital, dan menaikkan skala permodalan usaha secara berkelanjutan.
Urgensi penguatan sektor kerakyatan ini kian beralasan jika menilik profil makroekonomi Kaltim yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Laju perekonomian regional pada triwulan III 2026 membukukan ekspansi sebesar 3,39 persen (year-on-year) dengan nominal Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku menyentuh Rp257,11 triliun, atau secara kumulatif tumbuh 3,25 persen sepanjang periode Januari hingga September 2026.
Meski laju PDRB mendapat dorongan signifikan dari masifnya konstruksi Ibu Kota Nusantara (IKN) serta perbaikan ekspor komoditas primer, struktur dasar ekonomi Kaltim masih rentan akibat besarnya porsi sektor pertambangan dan penggalian batu bara, sebagaimana tercatat pula dalam laporan pertumbuhan BI triwulan II sebesar 3,35 persen. Karena itu, diversifikasi ekonomi melalui pemberdayaan UMKM menjadi keharusan mendesak demi menjaga stabilitas pendapatan daerah dari ancaman volatilitas harga komoditas global.
Kemeriahan MEF 2026 yang dipadukan dengan lokakarya kompetensi, edukasi Cinta, Bangga, Paham Rupiah, sarana medical corner, serta hiburan musik dari grup Davy Jones, Geisha, dan Ada Band pada hakikatnya memikul misi substantif. Tolok ukur kesuksesan agenda ini bukan dihitung dari kerumunan penonton di atrium mal, melainkan seberapa kokoh daya tahan UMKM lokal dalam memperluas pangsa pasar dan memperbesar skala bisnisnya pascafestival usai. (Fzi)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id









