Ulasankaltim.id, Samarinda – Hamparan rumput Lapangan Makorem 091/Aji Surya Natakesuma (ASN) dipenuhi barisan saf jemaah sejak pagi hari, Sabtu (29/8/2026). Di bawah paparan terik matahari, ratusan warga bersama unsur aparatur pertahanan dan keamanan bersujud melangsungkan salat Istisqa guna meminta curahan hujan menyusul ancaman kemarau panjang di ibu kota Provinsi Kalimantan Timur.
Pelaksanaan ritual permohonan hujan ini dimulai tepat pada pukul 07.30 Wita. Sebanyak kurang lebih 400 peserta memadati lokasi, yang mencakup prajurit TNI Angkatan Darat, personel kepolisian, masyarakat luas, serta sekitar 35 jemaah wanita yang turut hadir memanjatkan istigfar secara khidmat.
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), termasuk Wali Kota Samarinda Andi Harun yang berbaur langsung dengan peserta salat. Kehadiran para pemangku kebijakan ini menegaskan urgensi situasi cuaca kering yang tengah membayangi ketersediaan air baku masyarakat.
Di sela-sela agenda, Wali Kota Samarinda Andi Harun melayangkan penghargaan mendalam kepada jajaran Korem 091/ASN. Ia menilai langkah proaktif institusi militer dalam memfasilitasi doa bersama ini merupakan wujud kepedulian nyata terhadap dinamika lingkungan yang dialami publik.
“Ini satu kontribusi yang sangat luar biasa,” ujar Andi Harun saat memberikan keterangannya di lokasi kegiatan.
Orang nomor satu di Kota Tepian tersebut menjelaskan bahwa jajaran birokrasi daerah tidak tinggal diam dalam menghadapi musim kering ini. Pemerintah Kota Samarinda telah mengerahkan segenap sumber daya guna menempuh prosedur teknis di lapangan untuk menjamin pasokan kebutuhan primer masyarakat tetap terjaga.
Meski demikian, Andi Harun menekankan perlunya kesadaran bahwa kalkulasi saintifik dan daya teknis manusia memiliki batas tertentu manakala dihadapkan pada perubahan siklus alam yang ekstrem.
Upaya mitigasi kedaruratan fisik dinilai harus berjalan beriringan dengan permohonan kepada Sang Pencipta. “Tentu juga kita butuh pertolongan Tuhan,” ungkap politisi yang memimpin Samarinda tersebut secara lugas.
Kondisi hidrologis di wilayah Samarinda saat ini memang tengah menghadapi fase krusial. Penurunan volume air Sungai Mahakam terpantau kian parah sehingga mempercepat perembesan air asin laut ke instalasi pengolahan air bersih milik daerah.
Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu suplai air bersih untuk kebutuhan harian ratusan ribu kepala keluarga jika kemarau berlanjut tanpa jeda presipitasi yang mencukupi.
Menyikapi eskalasi krisis air tersebut, Wali Kota menyerukan agar inisiatif peribadatan serupa tidak berhenti di tingkat markas komando saja. Ia meminta seluruh aparatur wilayah menggerakkan masyarakat untuk menggelar salat Istisqa di lingkup yang lebih terdesentralisasi.
“Hal yang sama kita mintakan kepada seluruh masyarakat di seluruh Kota Samarinda,” kata Andi Harun, menegaskan perlunya gerakan spiritual massal mulai dari jenjang kecamatan hingga tingkat kelurahan.
Pendekatan inklusif juga ditekankan oleh jajaran pemerintah daerah. Andi Harun mengimbau komunitas non-muslim di seantero kota untuk turut serta melangsungkan doa keselamatan sesuai tata cara peribadatan dan keyakinan masing-masing.
“Dari umat lain, melalui proses ibadah masing-masing memohon pertolongan Tuhan,” tutur Wali Kota, menegaskan kebersamaan lintas iman dalam menghadapi tantangan ekologis ini.
Langkah terpadu yang memadukan kesiapsiagaan teknis pemerintah daerah, kedisiplinan aparat teritorial, dan kekuatan spiritual warga diyakini menjadi fondasi ketahanan kota saat menghadapi bencana hidrometeorologi kering.
Melalui konsolidasi usaha lahiriah dan batiniah dari seluruh lapisan masyarakat, Andi Harun menaruh asa agar wilayah Kalimantan Timur segera memperoleh anugerah cuaca yang sejuk.
“Agar kita segera mendapatkan hujan yang penuh berkah,” tutup Andi Harun mengakhiri pesannya di hadapan para jemaah. (Fzi)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id









