Kelompok Radikal Sasar Anak Lewat Medsos dan Game Online, Densus 88 Angkat Suara

oleh -266 Dilihat
Konfrensi Pers Oleh Kepolisian dan Densus 88 (Foto : Tangkap Layar akun Youtube @Kompastv)
banner 468x60

Ulasankaltim.id, Samarinda – Gelombang keterlibatan anak dalam jaringan radikalisme kembali mencuat ke permukaan, memunculkan kekhawatiran baru tentang bagaimana kelompok ekstrem memanfaatkan ruang digital untuk memperluas pengaruhnya. Temuan terbaru Densus 88 Antiteror Polri menunjukkan fenomena yang jauh lebih serius dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Densus 88 mengungkap bahwa 110 anak telah direkrut kelompok radikal sepanjang 2025. Data ini menandai peningkatan yang sangat mencolok dibanding periode 2011–2017, di mana hanya 17 anak yang diamankan terkait aktivitas teror.

Informasi tersebut disampaikan Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana, dalam konferensi pers pada Selasa (18/11/2025). Ia menegaskan bahwa angka remaja yang terlibat bukan hanya bertambah, tetapi menunjukkan pola rekrutmen yang semakin agresif.

Menurut Mayndra, sejumlah anak yang teridentifikasi bahkan diduga merencanakan aksi teror di beberapa wilayah. Rencana tersebut terbongkar setelah aparat mendalami komunikasi dan aktivitas mereka di berbagai platform digital.

Ia menjelaskan bahwa media sosial menjadi pintu masuk utama proses perekrutan. Kelompok radikal memanfaatkan ruang percakapan, konten propaganda, hingga fitur komunitas untuk mendekati anak-anak yang rentan.

Selain media sosial, game online juga menjadi salah satu medium yang digunakan. Mayndra mengatakan bahwa interaksi di dalam permainan memberi ruang bagi kelompok radikal untuk membangun kedekatan, lalu perlahan menanamkan ideologi berbahaya.

“Rekrutmen dilakukan secara masif melalui platform daring,” ujar Mayndra dalam keterangannya. Ia menekankan bahwa pola ini membuat proses penyebaran ideologi ekstrem sulit dideteksi sejak awal.

Densus 88 kini melakukan pendalaman terhadap setiap anak yang terlibat untuk mengetahui sejauh mana mereka memahami doktrin yang diberikan. Pemeriksaan juga dilakukan untuk memetakan jaringan rekrutmen yang terus berkembang.

Fenomena ini disebut sebagai peringatan serius bagi orang tua dan masyarakat. Ruang digital yang tampak aman ternyata dapat dimanfaatkan untuk memengaruhi kelompok rentan, terutama anak-anak yang belum mampu mengenali manipulasi ideologis.

Densus 88 memastikan akan memperkuat pemantauan aktivitas daring serta membuka kerja sama dengan berbagai pihak untuk mencegah semakin banyak anak terseret dalam jaringan radikal. (Fzi)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *