Ulasankaltim.id, Samarinda – Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pelabuhan dan Maritim Samarinda (AMPMS) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda, Rabu (12/3/2025). Aksi ini sebagai bentuk penolakan terhadap usulan penutupan jalur Sungai Mahakam pasca insiden tongkang bermuatan kayu yang menabrak Jembatan Mahakam pada 16 Februari lalu.
Koordinator lapangan aksi, Daeng Mukhtar, menegaskan bahwa penutupan jalur Sungai Mahakam bukanlah solusi yang tepat. Menurutnya, ribuan pekerja yang bergantung pada aktivitas sungai akan terdampak secara ekonomi jika jalur transportasi air tersebut ditutup.
“Mereka yang ingin menutup jangan seenaknya saja, karena jalur ini adalah sumber penghidupan kami. Banyak keluarga yang bergantung pada arus lalu lintas sungai ini,” ujar Daeng.
Ia menambahkan, pihaknya tidak menolak investigasi dan proses hukum terhadap insiden tabrakan tongkang dengan Jembatan Mahakam. Namun, AMPMS meminta KSOP Samarinda untuk tetap membuka jalur sungai agar aktivitas ekonomi masyarakat tidak terhenti.
Aksi unjuk rasa ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat maritim, termasuk agen pelayaran, Kesatuan Buruh Marhaenis (KBM), Koperasi Tenaga Kerja Bongkar Muat (Komura), serta para buruh pelabuhan. Mereka kompak menyuarakan aspirasi agar jalur sungai tetap beroperasi seperti biasa.
Ia juga menanggapi isu yang menyebutkan adanya tuntutan pencopotan Kepala KSOP Samarinda. Menurut mereka, langkah tersebut tidak relevan dengan penyelesaian insiden tongkang, sehingga sebaiknya fokus diberikan pada investigasi yang lebih mendalam.
Aksi ini berlangsung dengan damai di depan kantor KSOP Samarinda. Para peserta menyampaikan tuntutan mereka melalui orasi dan spanduk yang berisi penolakan terhadap penutupan jalur sungai.
Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi dari pihak berwenang terkait permintaan massa aksi. Namun, KSOP Samarinda memastikan akan mengkaji lebih lanjut dampak dari penutupan jalur sungai sebelum mengambil keputusan.
Sungai Mahakam sendiri merupakan jalur transportasi vital di Kalimantan Timur, menghubungkan berbagai sektor industri dan perdagangan. Setiap kebijakan yang menyangkut jalur ini berpotensi berdampak luas bagi perekonomian masyarakat setempat.
Masyarakat maritim berharap pemerintah dan pihak terkait dapat mempertimbangkan kepentingan ekonomi ribuan pekerja sebelum mengambil keputusan terkait operasional Sungai Mahakam pasca insiden tabrakan tongkang tersebut. (Fzi)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id









