Perkuat Daya Dukung Sempadan Karang Mumus, Kolaborasi Mahasiswa dan Pertamina Tanam Pohon Endemik di Samarinda

oleh -202 Dilihat
Puluhan sukarelawan dari HIMALAIA POLNES, Pertamina, DLH Kota Samarinda, dan warga menanam bibit pohon langka di sempadan Sungai Karang Mumus, Jalan Pemuda III, Samarinda (Foto : Yanur)
banner 468x60

Ulasankaltim.id, Samarinda – Upaya revitalisasi zona penyangga aliran air terus digencarkan guna mereduksi risiko degradasi lahan di kawasan perkotaan Kalimantan Timur. Kesadaran ekologis tersebut mewujud lewat inisiatif pemulihan bantaran perairan yang digerakkan oleh elemen akademisi bersama sektor industri dan otoritas lingkungan setempat. Langkah konkret ini diarahkan untuk memperkokoh stabilitas tanah tepian sekaligus memulihkan vegetasi alami yang kian tergerus pembangunan.

Komitmen pemulihan biosfer kembali dibuktikan oleh Himpunan Mahasiswa Pencinta Alam Teknik Kimia Politeknik Negeri Samarinda (HIMALAIA POLNES) melalui perhelatan agenda strategis bertajuk Ceremonial Penanaman Keragaman Hayati (KEHATI) Stage 08. Inisiatif konservasi terpadu tersebut resmi digelar pada Minggu (8/11/2026) dengan menyasar area pemukiman di Jalan Pemuda III, lingkungan RT 32, Kelurahan Temindung Permai, Kecamatan Sungai Pinang, Kota Samarinda.

Langkah mitigasi lingkungan ini bukanlah program insidental, melainkan kelanjutan dari komitmen jangka panjang korporasi dalam membina keanekaragaman hayati lokal. Community Development Officer Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Samarinda, Febrianti Soleha, menerangkan bahwa dedikasi pendampingan penghijauan di wilayah tersebut telah dipertahankan secara berkesinambungan sejak empat tahun silam.

“Kegiatan hari ini merupakan kegiatan penanaman dalam program kehati atau keanekaragaman hayati yang hari ini dilaksanakan sudah stage kelapan,” tutur Febrianti saat ditemui di lokasi penanaman.

Aksi lapangan ini berhasil menghimpun energi kolektif melalui kehadiran sekitar 70 sukarelawan lintas elemen. Komposisi garda depan pelaksana didukung oleh 30 fungsionaris beserta anggota penuh HIMALAIA POLNES, didampingi partisipasi aktif rekan-rekan dari Mahasiswa Teknologi Informasi Pecinta Alam Indonesia (MERAPI POLNES), serta keterlibatan warga setempat yang bermukim di sekitar titik penanaman.

Fokus penanaman difokuskan pada kawasan sempadan perairan karena wilayah ini dinilai rawan mengalami penurunan struktur tanah akibat erosi permukaan. Ketiadaan perakaran pohon yang memadai di sepanjang alur perairan kerap memicu longsoran tebing sungai yang berpotensi mendangkalkan badan air utama kota.

Febrianti menggarisbawahi esensi fungsional dari pemilihan vegetasi keras di tepi aliran sungai, yang ditujukan untuk memperkuat daya ikat tanah sekaligus memaksimalkan retensi limpasan air hujan. “Kami harap bisa ikut melestarikan lingkungan, khususnya di sempadan sungai sebagai fungsi penyerap dan menahan tanah agar tidak abrasi,” ucapnya.

Secara geografis, sempadan Sungai Karang Mumus memegang peranan krusial sebagai benteng hidrologis kota yang berfungsi ganda sebagai wilayah tangkapan air alami dan penahan laju sedimen. Keberadaan vegetasi tegakan di zona penyangga ini menjadi faktor penentu agar siklus hidrologi perkotaan tetap stabil di tengah tingginya curah hujan periodik.

Kelancaran eksekusi agenda pemulihan vegetasi ini bertumpu pada formula kemitraan multi-pihak yang menyatukan dunia perguruan tinggi, warga kelurahan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, serta sokongan korporasi Pertamina. Pola interaksi harmonis ini membuktikan bahwa perlindungan ekosistem membutuhkan integrasi kerja dari seluruh pemangku kepentingan.

Keterlibatan instansi birokrasi melalui dinas teknis pemerintah daerah pun diposisikan secara terukur guna menjamin akuntabilitas teknis di lapangan. DLH Kota Samarinda memegang mandat pengawasan agar implementasi tata kelola hijau berjalan sejalan dengan regulasi baku mutu lingkungan hidup daerah.

Febrianti menegaskan posisi strategis otoritas lingkungan kota dalam menjaga kepatuhan ekologis penanaman, “Peran pemerintah, khususnya DLH, itu sebenarnya sebagai monitoring ya juga peran-peran sebagai pembina dalam pelaksanaan kegiatan.”

Dari sisi teknis operasional, Penanggung Jawab kegiatan, Indra Yudistyawan, mengonfirmasi bahwa tim gabungan telah menuntaskan penanaman puluhan bibit pohon berdaya adaptasi tinggi di atas bidang tanah milik masyarakat setempat. Distribusi tanam di lahan warga dipilih agar timbul rasa kepemilikan komunal terhadap pohon-pohon pelindung tersebut.

“Kegiatan hari ini adalah salah satu proker unggulan HIMALAIA POLNES di mana kami bekerja sama dengan Pertamina, pihak DLH kota, dan warga masyarakat sekitar,” jelas Indra merinci sinergi kerja yang terbangun di lapangan.

Seleksi botani diarahkan secara cermat dengan mengelompokkan tanaman ke dalam tiga fungsi utama, yakni flora endemik Pulau Borneo, spesies berstatus langka, serta vegetasi peneduh berkanopi lebat. Varietas berkayu keras yang ditancapkan ke tanah meliputi Gaharu, Nyatoh, Belangeran, Pulai, hingga tegakan Meranti berkualitas prima.

Penetapan taksonomi pohon tersebut ditakar secara presisi berdasarkan sifat tanah dan iklim mikro di kawasan sempadan, sehingga keanekaragaman flora mampu tumbuh harmonis berdampingan dengan pemukiman warga. Varietas kayu keras lokal ini dikenal memiliki sistem perakaran dalam yang kokoh mengikat partikel sedimen tepi sungai.

Menghindari paradigma program seremonial yang kerap berhenti pasca-dokumentasi, panitia penyelenggara telah merumuskan sistem akuntabilitas perawatan pascatanam. Pengawasan terencana disiapkan demi memastikan angka sintasan bibit tetap tinggi hingga pohon mandiri berakar kuat di habitat barunya.

Indra menegaskan rancangan pengawasan lapangan yang akan dijalankan timnya secara konsisten dalam kurun waktu terdekat, “Tentunya saja pasti ada buat pemantauan, biasanya kami setelah menanam ini kami kasih spare waktu seminggu buat kami ke sini.”

Jadwal pemeliharaan fisik diaplikasikan lewat agenda penyiraman rutin setiap dua hari sekali serta pencatatan berkala terhadap pertambahan tinggi batang tanaman. Melalui keterlibatan sivitas akademika, korporasi energi, dan aparat pemerintah, kolaborasi ini diharapkan mampu memperluas kesadaran bersama dalam menanggulangi ancaman pemanasan global di tingkat tapak. (Yanur)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *