Misteri Kematian MR di Kamar Hotel Samarinda: Keluarga Tolak Autopsi, Polisi Cari Teman Korban

oleh -203 Dilihat
Petugas kepolisian melakukan korban untuk dibawa ke Rumah Sakit AW Syahranie Samarinda (Foto : Yanur)
banner 468x60

Ulasankaltim.id, Samarinda – Aparat Kepolisian Sektor Samarinda Ulu tengah memburu seorang wanita misterius yang diduga menjadi saksi kunci tewasnya seorang tamu pria di dalam kamar penginapan di kawasan Jalan Siradj Salman, Samarinda Ulu. Penyelidikan intensif terus berjalan guna merekonstruksi peristiwa sebelum korban mengembuskan napas terakhir.

Korban yang teridentifikasi berinisial MR, seorang warga asal Sangasanga, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), didapati terbujur kaku tak bernyawa pada Kamis (24/9/2026) malam. Insiden tersebut sontak menggegerkan para pengelola dan tamu tempat penginapan setempat.

Berdasarkan runtutan kronologi awal, keberadaan korban diketahui setelah seorang perempuan mendatangi meja resepsionis dengan gelagat panik. Sosok rekan wanita tersebut secara tergesa-gesa meminta bantuan dari petugas hotel di lobi lantai dasar.

Merespons permohonan darurat itu, pegawai hotel bergegas menuju kamar yang dimaksud untuk memeriksa keadaan penyewa. Namun nahas, saat pintu dibuka dan pengecekan dilakukan, MR sudah berada dalam kondisi terbujur kaku dan dipastikan telah meninggal dunia.

Akan tetapi, perempuan yang sempat meminta tolong tersebut mendadak raib sesaat setelah petugas tiba di kamar. Kepolisian kini menempatkan sosok tersebut sebagai figur sentral yang keterangannya sangat dibutuhkan untuk mengurai teka-teki insiden tersebut.

Memasuki Jumat (25/9/2026), tim penyidik Unit Reskrim Polsek Samarinda Ulu masih bekerja ekstra di lapangan. Polisi terus mengumpulkan bahan keterangan demi memetakan aktivitas terakhir yang dilakukan pria asal Kutai Kartanegara tersebut bersama rekan wanitanya.

Kapolsek Samarinda Ulu AKP Asriadi menerangkan bahwa tim medis dan kepolisian langsung mengevakuasi tubuh korban ke fasilitas kesehatan sesaat setelah proses olah tempat kejadian perkara (TKP) selesai dilaksanakan malam itu.

Langkah evakuasi ke rumah sakit ditempuh untuk melakukan visum resmi demi mendeteksi tanda-tanda kejanggalan atau potensi kekerasan pada fisik korban. Namun, kepolisian menghadapi keterbatasan langkah medis akibat keputusan pihak keluarga mendiang.

“Sudah kita bawa ke rumah sakit, masih menunggu hasil visum. Dari pihak keluarga tidak mau diotopsi, hanya pemeriksaan luar saja yang bisa dilakukan,” ungkap AKP Asriadi saat dikonfirmasi, Jumat (25/9/2026).

Pihak keluarga MR secara tegas menolak tindakan bedah mayat secara menyeluruh dan meminta jenazah segera diserahkan agar dapat dipulangkan ke kediaman duka di Sangasanga. Kepolisian pun menghormati hak keluarga dengan menyandarkan asesmen forensik sebatas inspeksi visum et repertum bagian luar tubuh.

Meski prosedur medis dilakukan secara terbatas, polisi menegaskan penyelidikan pidana tidak serta-merta dihentikan. Pencarian rekan wanita korban kini menjadi prioritas utama penyelidik guna mengungkap motif maupun aktivitas korban beberapa saat sebelum tewas.

Kendati demikian, kerja aparat penegak hukum menemui rintangan teknis yang cukup berat di area properti hotel. Sistem kamera pengawas (CCTV) di lingkungan penginapan tersebut ternyata tidak merekam aktivitas apa pun lantaran mengalami kerusakan perangkat.

AKP Asriadi mengakui bahwa tidak berfungsinya infrastruktur keamanan digital tersebut memutus salah satu rantai petunjuk visual paling krusial bagi penyidik. Padahal, rekaman video di lorong hotel semestinya dapat menunjukkan secara detail pergerakan tamu yang keluar masuk kamar korban.

“Masih kami cari karena CCTV sedang rusak dan tidak berfungsi. Petunjuk itu yang bisa kita dapat, harusnya. Ini masih ditelusuri,” tutur Asriadi membeberkan kendala yang dihadapi di lapangan.

Akibat kerusakan kamera pemantau tersebut, penyidik kini memusatkan fokus pada teknik penyelidikan konvensional. Polisi menggali keterangan saksi-saksi dari kalangan pegawai hotel serta memeriksa jejak barang bawaan yang tertinggal di lokasi kejadian perkara.

Hingga saat ini, kesimpulan medis mengenai pemicu kematian MR belum dapat dipastikan secara terang benderang. Polisi masih menunggu laporan tertulis hasil visum luar dari dokter forensik sembari memperluas penelusuran identitas wanita yang melarikan diri tersebut.

Kasus penemuan mayat ini masih bergulir dalam penanganan intensif jajaran Polsek Samarinda Ulu untuk memastikan apakah terdapat unsur tindak pidana di balik kepergian mendadak warga Sangasanga tersebut. (Yanur)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *