Ulasankaltim.id, Samarinda – Aktivitas pemanfaatan ceruk air di lahan bekas konsesi kembali berujung petaka. Seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun ditemukan tak bernyawa usai tenggelam di sebuah kolam galian yang diduga eks tambang batubara di kawasan Bayur, Kecamatan Samarinda Utara, Selasa (15/9/2026) petang.
Insiden nahas ini kian menyoroti rapuhnya aspek keselamatan lingkungan pada area sisa pertambangan. Cekungan air yang menjadi lokasi musibah diketahui merupakan jejak operasi ekstraksi komoditas emas hitam yang berlangsung sekitar tahun 2020 silam.
Hingga peristiwa tragis tersebut merenggut nyawa korban, areal galian itu sama sekali belum direklamasi maupun ditutup. Bahkan di sepanjang perimeter genangan, pihak pengelola tidak memasang rambu keselamatan maupun papan peringatan yang melarang warga beraktivitas di sekitar air.
Rangkaian tragedi bermula menjelang senja, kira-kira pukul 16.00 Wita. Sejumlah masyarakat setempat saat itu terpantau sedang memanfaatkan genangan kolam untuk membersihkan diri, sementara korban tampak berada di sekitar bibir galian.
Salah seorang saksi mata di tempat kejadian perkara, Risnawati, mengungkapkan bahwa korban mulanya hanya bertengger di tepi tebing atas sambil memperhatikan kelompok warga yang tengah basah-kuyup di dalam air.
Situasi berubah drastis tak lama setelah para orang dewasa beranjak ke daratan. Korban secara mendadak meloncat masuk ke kolam dan mencoba menggapai batang kayu yang sedang terapung di permukaan air.
Nahas, sesaat setelah melompat dan menuju potongan kayu itu, tubuh mungil sang bocah tak pernah lagi terlihat menyembul ke permukaan kolam.
Sebelum terjun ke dalam ceruk galian, korban rupanya sempat melontarkan percakapan ganjil bernada pamit kepada rekannya di tepian, yang saat itu masih sempat didengar oleh saksi.
“Dia sempat ngomong sama temannya, ‘dadah, aku minta maaf ya’. Temannya bilang, ‘ah aku nggak mau maafkan’. Sedengar saya sampai situ saja,” ungkap Risnawati saat menceritakan kembali percakapan terakhir korban.
Risnawati juga memaparkan bahwa pemanfaatan air kolam eks galian tersebut bukanlah hal baru bagi warga sekitar. Minimnya ketersediaan air bersih di instalasi perumahan saat musim kemarau memaksa warga memanfaatkan sumber cadangan tersebut demi keperluan mandi.
Ketiadaan alternatif sumber air baku inilah yang mendorong masyarakat sekitar memadati kolam tanpa menyadari bahaya tersembunyi di balik genangan air yang tenang.
Sadar korban hilang di bawah permukaan air, warga yang berada di lokasi segera merespons dengan menggelar operasi pertolongan mandiri menggunakan peralatan seadanya.
Warga lokal bernama Helmi berinisiatif menyelam beberapa kali ke dasar ceruk sebelum akhirnya berhasil menjangkau fisik korban.
“Saya terinjak di kaki saya. Saya nyelam di dasar, kemudian teraba kakinya. Posisi telungkup di bawah,” tutur Helmi mengenai detik-detik penemuan korban di dasar galian.
Helmi membeberkan bahwa korban ditemukan tersangkut di dasar perairan yang memiliki kedalaman kurang lebih 2,5 meter. Dasar cekungan galian tersebut berkarakteristik pasir padat dan terbebas dari endapan lumpur pekat.
Pihak aparat kepolisian mengonfirmasi adanya keterlibatan aktif warga dalam upaya penyelamatan darurat tersebut. Pamapta III Polresta Samarinda, Aiptu Joko Wahyudi, menjelaskan laporan musibah anak tenggelam diterima oleh sentra pelayanan kepolisian sekitar pukul 16.30 Wita.
“Sudah banyak warga yang berkerumun dan warga juga membantu mencari secara manual. Sekitar pukul 19.17 tadi korban berhasil ditemukan,” sebut Joko mengonfirmasi waktu penemuan jasad korban yang langsung dievakuasi menuju rumah duka.
Guna mencegah peristiwa serupa terulang, Polresta Samarinda mengimbau para orang tua agar memperketat penjagaan dan melarang anak-anak mereka mendekati atau berenang di area danau dan ceruk bekas galian tambang mana pun. (Yanur)
Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id









