Antisipasi Dampak Karhutla, Pemkot Samarinda Geber Mitigasi ISPA

oleh -202 Dilihat
Suasana lanskap perkotaan yang diselimuti fenomena udara kabur di tengah potensi perubahan cuaca yang berlangsung cepat. (Foto : Fzi)
banner 468x60

Ulasankaltim.id, Samarinda – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat selama musim kemarau kini mulai berdampak pada kualitas udara di wilayah Kota Samarinda.

Ancaman fenomena kabut asap tipis sudah dirasakan oleh warga lokal di beberapa sudut kota, meskipun data BMKG menunjukkan indeks kualitas udara secara umum masih dalam kisaran sedang.

Merespons perkembangan tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda bertindak cepat dengan menyiapkan serangkaian strategi mitigasi demi melindungi kesehatan masyarakat dari paparan asap.

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, Suwarso, menegaskan bahwa meski tingkat pencemaran udara secara formal dinyatakan belum kritis, dampak paparan asap di lapangan sudah tidak bisa diabaikan.

Aktivitas luar ruangan masyarakat mulai terganggu oleh munculnya gumpalan asap tipis yang diiringi keluhan fisik, seperti rasa perih di mata.

“Samarinda berdasarkan pantauan dari BMKG kategorinya sedang, artinya masih aman. Namun demikian kita semua bisa merasakan bahwa mulai ada agak perih, kemudian juga mulai ada kabut,” kata Suwarso.

Pemerintah daerah mengimbau seluruh lapisan warga agar tetap memantau perubahan kondisi lingkungan sekitar dan tidak bersikap sepele terhadap perubahan iklim lokal ini.

Perhatian utama perlindungan saat ini diarahkan kepada kelompok rentan yang memiliki risiko tinggi terhadap masalah pernapasan, yakni anak-anak dan kalangan lanjut usia.

Warga yang masuk dalam kategori rentan tersebut sangat disarankan untuk mengenakan masker setiap kali terpaksa beraktivitas di ruang terbuka.

Pemerintah juga menyarankan masyarakat secara umum untuk membatasi agenda di luar rumah apabila tidak ada keperluan yang mendesak.

“Untuk kelompok yang rentan seperti anak-anak, lansia, itu tetap kalau aktivitas keluar rumah menggunakan masker. Atau kalau tidak ada kegiatan yang penting sebaiknya tidak keluar rumah,” tegas Suwarso.

Selain imbauan fisik, Pemkot Samarinda berfokus memantau potensi ledakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang sering kali menyertai fenomena kemarau panjang.

Koordinasi lintas sektor telah dijalankan bersama Dinas Kesehatan Kota Samarinda untuk merekam jejak perkembangan potensi penyakit akibat paparan asap.

Seluruh puskesmas dan fasilitas kesehatan (faskes) tingkat pertama telah diinstruksikan untuk siaga penuh memantau kondisi kesehatan populasi di wilayah masing-masing.

“Saya sudah komunikasikan dengan Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda untuk melakukan pemantauan termasuk melakukan mitigasi, apakah tingkat persebaran penyakit ISPAnya juga meningkat,” ungkap Suwarso.

Penyiapan faskes ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil evaluasi awal pemerintah daerah dalam memetakan dampak risiko musim kemarau secara menyeluruh.

Jika grafik penderita ISPA menunjukkan tren kenaikan, Dinas Kesehatan siap menerjunkan tim untuk pengobatan dan intervensi medis secara masif.

“Kalau indikasinya terjadi peningkatan maka otomatis Dinas Kesehatan melalui fasilitas pelayanan kesehatan akan melakukan pengobatan maupun pemeriksaan,” jelasnya.

Pemantauan kualitas udara sebelumnya sempat merekam lonjakan indeks pencemaran yang signifikan di dua wilayah perkotaan, yaitu Samarinda Utara dan Palaran.

Kedua kecamatan tersebut sempat masuk dalam kategori kualitas udara buruk sebelum akhirnya berangsur membaik menuju level sedang pada siang hari.

“Yang sempat tertinggi, sempat kualitas udaranya buruk itu wilayah Samarinda Utara dan Palaran. Tapi dalam perkembangan siang ini sudah mulai masuk ke dalam kategori sedang,” tambah Suwarso.

Mengenai dugaan adanya paparan asap kiriman dari daerah tetangga, DLH Samarinda menyatakan belum menemukan bukti kuat yang mengarah pada kesimpulan tersebut.

Meski demikian, titik api dilaporkan sempat muncul di area perbatasan antara Samarinda dan Kabupaten Kutai Kartanegara.

Guna mencegah penyebaran karhutla yang lebih luas, pemadaman titik api di wilayah perbatasan tersebut langsung dieksekusi melalui kerja sama kolaboratif antarpetugas kedua daerah.

“Memang ada kebakaran di daerah perbatasan kita dengan Kukar, tapi rata-rata kita bisa padamkan bersama dengan pihak Kukar,” ujar Suwarso. (Fzi)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *