IHSG Melemah Tajam, Sentimen Geopolitik dan Arus Modal Asing Jadi Sorotan

oleh -204 Dilihat
Foto Illustrasi Chat Gpt
banner 468x60

Ulasankaltim.id, Jakarta – Gelombang tekanan kembali mengguncang pasar modal Indonesia pada awal pekan. Sentimen global yang memburuk serta meningkatnya kehati-hatian investor membuat perdagangan saham domestik dibuka dengan koreksi tajam, menandai awal hari yang berat bagi pelaku pasar.

Pada perdagangan Senin pagi (9/3/2026), Indeks Harga Saham Gabungan langsung bergerak di zona merah. IHSG tercatat turun 362,24 poin atau melemah 4,78 persen sehingga berada di level 7.223,45 pada pembukaan perdagangan.

Tekanan jual mendominasi hampir seluruh sektor saham. Dari keseluruhan emiten yang diperdagangkan, sebanyak 449 saham mengalami penurunan harga, sementara 57 saham menguat dan 158 saham lainnya tercatat tidak mengalami perubahan harga.

Nilai transaksi pada awal sesi perdagangan tercatat sekitar Rp1,5 triliun. Aktivitas tersebut menunjukkan tingginya pergerakan dana di pasar, seiring meningkatnya aksi jual yang dilakukan investor.

Jika ditarik dalam periode lebih panjang, pelemahan IHSG tidak hanya terjadi dalam satu hari. Selama sepekan terakhir, indeks acuan pasar saham Indonesia itu telah merosot hampir delapan persen.

Penurunan tersebut bahkan melampaui koreksi yang terjadi saat gejolak pasar global pada akhir Januari lalu yang dikenal sebagai MSCI Crash. Kondisi ini menempatkan kinerja IHSG sebagai salah satu yang mengalami tekanan cukup dalam dalam waktu singkat.

Pengamat pasar menilai pergerakan IHSG saat ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang terjadi secara bersamaan. Selain dinamika ekonomi domestik, tekanan dari kondisi global turut membentuk arah pergerakan pasar saham Indonesia.

Salah satu faktor yang memicu perubahan sentimen investor adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik dan ketidakpastian yang terjadi di wilayah tersebut mendorong investor global untuk bersikap lebih berhati-hati.

Dalam situasi ketidakpastian geopolitik, investor umumnya mengurangi porsi investasi pada aset yang dianggap berisiko. Perubahan strategi ini dikenal sebagai kecenderungan risk-off, yaitu pergeseran portofolio menuju instrumen yang lebih aman.

Negara-negara berkembang seperti Indonesia sering kali menjadi pihak yang paling terdampak dari perubahan arus modal tersebut. Dana asing yang sebelumnya mengalir ke pasar saham domestik dapat dengan cepat keluar ketika sentimen global memburuk.

Kondisi ini juga memicu fenomena yang dikenal sebagai geopolitical contagion, yakni dampak konflik di suatu kawasan yang menyebar ke pasar keuangan global. Dalam situasi seperti ini, investor internasional biasanya memindahkan dana ke instrumen yang dinilai lebih stabil, seperti obligasi pemerintah negara maju atau aset berbasis dolar Amerika Serikat.

Selain tekanan geopolitik, perhatian investor juga tertuju pada kemungkinan perubahan posisi Indonesia dalam indeks saham global yang disusun oleh MSCI. Isu tersebut dinilai turut memengaruhi persepsi investor terhadap daya tarik pasar saham Indonesia dalam jangka pendek hingga menengah. (Fdy)

Dapatkan informasi terbaru dan terkini di Instagram @ulasankaltim_id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *